Puluhan Warga Landoh Menggantungkan Hidup di Tempat Sampah

Wednesday, 14 August 2013 | 21:19 WIB
Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di kawasan Landoh Kecamatan Sulang. (Foto:Puji)

Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di kawasan Landoh Kecamatan Sulang. (Foto:Puji)

SULANG, MataAirRadio.net – Puluhan pemulung menggantungkan nasib mereka pada tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di kawasan Landoh Kecamatan Sulang. Mayoritas mereka adalah warga setempat. MataAir Radio memantau aktivitas mereka di TPA Landoh, Rabu (14/8) pagi.

Sulasah, salah seorang pemulung mengaku sudah tujuh tahun belakangan, mengais rezeki di lokasi tempat pembuangan sampah. Ibu rumah tangga berusia 30 tahun ini, rela berjubel sejak jam delapan pagi sampai tengah hari untuk mencari barang-barang bekas yang dibuang.

Selain plastik, kertas dan barang plastik lainnya diandalkannya untuk menyambung hidup. Dalam 15 hari, Sulasah mengaku bisa mengumpulkan Rp200.000-Rp300.000, hasil dari menjual sampah ke pengepul. Baginya, pekerjaan semacam itu cukup membantu kebutuhan hidup keluarganya.

Demikian juga dengan Ngatri. Wanita setengah abad ini, bahkan memilih datang lebih pagi, agar bisa mendapat hasil lebih banyak. Dirinya mengaku sudah berada di TPA sejak jam enam pagi dan baru pulang jam empat sore.

Berbeda dengan Sulasah yang menjual hasil kaisannya setiap 15 hari. Ngatri memilih menjualnya setiap 20 hari. Ia mengaku bisa mengantongi uang antara Rp500.000 hingga satu juta rupiah.

Suka dan duka bekerja sebagai pemulung di tempat pembuangan sampah dijalaninya dalam sepuluh tahun terakhir. Aktivitasnya itu masih disambi menggembalakan ternak kambingnya. Pernah suatu ketika, Ngatri mendapati ternaknya mati karena menelan sampah kimia. Namun kejadian seperti itu dianggapnya sebagai garis nasib.

Sementara itu, Suparno, salah seorang petugas yang ditemui di TPA Landoh mengatakan, sebanyak 96 ton sampah dibuang ke TPA tersebut setiap harinya. Sampah itu berasal dari berbagai kecamatan di kabupaten ini.

Menurutnya, rata-rata 50 orang pemulung menggantungkan nasib di TPA. Ia pun menuturkan, ada sejumlah kejadian yang membuatnya terenyuh. Salah seorang pemulung mengalami patah jari tangannya, gara-gara berebut sampah yang belum tuntas dibongkar dari dumptruk. Setelah kejadian itu, ia melarang pemulung mendekat ke dumptruk, sebelum isi muatan tuntas terbongkar. (Pujianto)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan