400 Hektare Tembakau Diserang Ulat

Selasa, 11 Juni 2013 | 14:08 WIB
Sekitar 400 dari 2.000 hektare tanaman tembakau petani di Kabupaten Rembang diserang hama ulat.  (Foto:Puji)

Sekitar 400 dari 2.000 hektare tanaman tembakau petani di Kabupaten Rembang diserang hama ulat. (Foto:Puji)

KALIORI, MataAirRadio.net – Intensitas hujan yang cukup tinggi di Kabupaten Rembang mulai membawa petaka bagi para petani tembakau. Sekitar 400 dari 2.000 hektare tanaman tembakau petani diserang hama ulat.

Sejauh ini belum diketahui secara pasti nilai kerugian yang diderita petani akibat serangan hama ulat tersebut. Hanya saja, jika cuaca terus berlangsung basah, maka kerugian per hektare bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Damini, seorang petani tembakau asal RT 1 RW 2 Dusun Siman Desa Sendangagung Kecamatan Kaliori mengaku, lima petak lahannya yang ditanami tembakau, kini mulai diserang hama ulat.

Hama ulat tersebut muncul dalam kurun seminggu terakhir atau ketika hujan seringkali mengguyur belakangan ini. Dirinya mengaku sudah melakukan penyemprotan menggunakan pestisida yang direkomendasikan PT Sadana Arifnusa selaku mitra petani. Namun serangan hama ulat tidak kunjung reda.

Maryono, petani lainnya di Desa Karangharjo Kecamatan Sulang menambahkan, cuaca basah membuat biaya operasional per hektare lahan menjadi membengkak. Ia menyebutkan, jika cuaca normal ongkos dari masa tanam hingga pemeliharaan hanya mencapai Rp30 juta, kini bisa menjadi Rp40 juta.

Pembengkakan ongkos terjadi karena petani harus mengerahkan lebih banyak tenaga untuk meredam serangan ulat dengan mengambil satu per satu hama yang bersembunyi di balik daun.

Menanggapi keresahan petani tembakau, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang Yosophat Susilo Hadi mengatakan, hama ulat hampir selalu muncul ketika intensitas hujan cukup tinggi.

Ia menyarankan petani agar melakukan “ronda” malam untuk memunguti ulat-ulat dari daun tembakau karena hama tersebut menyerang pada malam hari.

Selain persoalan serangan hama ulat, petani tembakau juga dihadapkan pada masalah tingkat perkembangan yang lambat dari tanamannya karena pasokan air berlebihan akibat curah hujan tinggi. Pada kondisi yang demikian, pihak Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang meminta petani menambah ketinggian gulutan. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan