Tebu Rembang Bakal Jadi Rebutan

Sabtu, 2 Februari 2013 | 14:48 WIB

REMBANG – MataAirRadio.net, Pasokan tebu dari Kabupaten Rembang bakal menjadi rebutan menyusul pendirian pabrik gula oleh PT Gendhis Multi Manis di Kabupaten Blora.

Selama ini, berdasarkan data yang dihimpun reporter MataAir Radio dari Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang, Sabtu (2/2), tanaman perkebunan jenis tebu yang dikembangkan petani di kabupaten ini dipasok untuk empat pabrik gula yang sudah ada.

Empat pabrik gula itu adalah PG Pakis Pati, PG Trangkil Pati, PG Rendeng Kudus, dan PG Cepiring Kendal. Dengan berdirinya pabrik gula di Blora, maka praktis diperlukan penataan distribusi pasokan agar lalu lintas tebu tidak semrawut.

Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang Yosophat Susilo Hadi menyebutkan, luas lahan tebu yang dikembangkan petani setempat lebih 8.000 hektare.

Dari luasan tersebut, Susilo merinci, sekitar 1.200 hektare dipasok untuk PG Rendeng, 1.200 hektare untuk PG Trangkil, serta 3.000 hektare untuk PG Pakis dan PG Cepiring. Tebu yang dipasok untuk keempat pabrik gula ini dikembangkan dengan sistem kemitraan dengan petani.

Selain tebu pabrik, di Rembang juga ada sekitar 3.000 hektare tebu rakyat yang selama ini lebih banyak terserap untuk industri gula tumbu.

Atas pendirian pabrik gula di Blora dan wacana pendirian pabrik gula di Rembang di masa mendatang, maka menurut Yosophat Susilo Hadi, luasan tebu rakyat akan berkurang, sehingga ia berencana mendorong pertambahan areal lahan tebu di kabupaten ini.

Kepala Bidang Perkebunan, Yosophat Susilo Hadi menambahkan, upaya menambah areal lahan tebu di Kabupaten Rembang bisa dilakukan melalui kerjasama dengan petani.

Menurut Susilo, petani bisa saja menyewa seluas tertentu lahan sebagai upaya perluasan, namun tetap saja harus ada pihak misalnya dari pabrik gula yang membantu petani dalam penataan varietas bibit tebu.

Selama ini, Susilo menegaskan, permasalahan pengembangan tebu di Kabupaten Rembang antara lain terletak pada penataan varietas dan pembibitan. Sebagian petani masih ogah beralih varietas dan mengandalkan pasokan bibit dari Kudus dan Pati.

Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia atau APTRI Kabupaten Rembang menyambut baik adanya penataan lahan dan luasan menyusul bertambahnya kebutuhan pasokan. Hanya, Ketua APTRI Kabupaten Rembang Maryono berharap, penataan harus disertai petunjuk yang jelas misalnya terkait pengaturan varietas tertentu untuk tipologi lahan tertentu. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan