Tasikharjo Janji Tak Lagi Merusak Mangrove

Kamis, 19 Juli 2012 | 09:44 WIB
Tanaman “baru” mangrove di Desa Tasikharjo Kecamatan Kaliori, Kamis (19/7). (Foto: Puji)

KALIORI – Pemerintah Desa Tasikharjo Kecamatan Kaliori berjanji akan melakukan pembinaan kepada warga setempat agar kasus perusakan mangrove untuk keperluan membuka areal tambak baru tak terulang.

Kepala Desa Tasikharjo, Sutono, Kamis (19/7), menyatakan, pihaknya bahkan telah menentukan batas sabuk hijau di kawasan pantai setempat yang disepakati semua warganya.

“Bakau yang sudah terlanjur hidup di bagian pematang tambak pun tidak boleh dipotong dengan alasan apapun. Kalau itu dilanggar, sesuai hasil mufakat warga, desa akan menyerahkannya kepada yang berwajib,” tegas dia.

Sutono berdalih, perusakan mangrove yang sempat terjadi di sejumlah titik pantai desa setempat oleh warganya secara bertahap sejak 2002 hingga 2006 silam, cukup dilematis untuk ditindak.

“Yang membuka lahan tambak baru itu adalah warga miskin. Mereka nelayan kecil yang tidak punya lahan. Pun mereka yang menanam sendiri mangrove itu. Bahkan sebagian mangrove berdiri di atas tambak yang telah bersertifikat atas nama warga,” terang Sutono.

Ketua Pelestari Pesisir Desa Tasikharjo, Sutarji, menambahkan, saat ini warga telah bersepakat untuk menanami kembali kawasan pantai setempat dengan tanaman mangrove jenis bakau si api-api.

“Tidak ada rencana untuk membuka lahan tambak lagi. Dan ini sudah menjadi kesepakatan bersama warga. Penanaman kembali pun sudah mulai dilakukan. Tidak hanya oleh warga, tetapi juga dari lembaga dan instansi peduli lingkungan,” katanya.

Hanya, kata dia, lantaran menanam bakau tergolong gampang-gampang susah, sejumlah tanaman diketahui mati antara lain karena ombak pasang dan sampah plastik.

“Menanam bakau tidak bisa setelah tanam langsung ditinggal begitu saja. Perlu pemeliharaan dan perawatan. Seperti salah satu titik di kawasan pantai desa ini saja, butuh hingga tujuh kali tanam baru berhasil. Masa tanamnya perlu diperhitungkan,” paparnya.

Ketua Nelayan Rukun Mina Santoso Desa Tasikharjo, Sahri, menambahkan, pihaknya memohon maaf atas ulah nelayan yang sempat merusak mangrove di kawasan pantai setempat.

“Hanya ya itu tadi sempat dilematis memang (untuk menindak). Namun, saat ini sudah dibuat kesepakatan, kalau nantinya ada warga yang nekat merusak tanaman bakau untuk keperluan tambak, akan langsung berhadapan dengan kelompok pecinta lingkungan,” katanya menekankan. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan