Tak Ada Hujan, Air Tangki Pun Jadi

Senin, 23 April 2012 | 09:03 WIB

KALIORI – Sejumlah petani di Kecamatan Kaliori terpaksa membeli bertangki-tangki air untuk membasahi lahan tanaman padinya seiring datangnya musim kemarau yang mengakibatkan sawah mereka mengering. Wartono, petani di Desa Wiroto, Senin (23/4) mengatakan, meski cukup berat di ongkos, upaya membeli air tangki tersebut tetap dilakukannya untuk menekan risiko gagal panen. Apalagi, lanjut dia, daerahnya memang bukan wilayah saluran irigasi sehingga hanya menggantungkan pasokan air dari curah hujan. Karena memasuki musim kemarau, curah hujan pun minim. “Saat ini, kondisi tanaman padi kami sudah hampir berbulir. Jika airnya tersendat dan sawah mengering, maka bulirannya tidak optimal bahkan bisa saja gagal panen. Kami tentu tidak mau itu terjadi,” tandasnya. Ia menyebutkan, air yang dibelinya itu terbilang tidak murah. Pasalnya, harga air satu tangki ukuran 5.000 liter mencapai Rp80.000. “Sawah kami yang seluas lebih dari setengah hektare baru akan basah jika dikucuri dua tangki air. Dalam seminggu, kami dua kali melakukan itu alias menghabiskan air sebanyak empat tangki dalam seminggu,” katanya. Ia pun mengaku tidak begitu mempedulikan tingkat kerugiannya akibat ketersendatan air itu. “Asalkan masih bisa panen, itu tidak terlalu menjadi soal. Daripada tidak panen sama sekali?” katanya. Kekurangan air untuk tanaman padi juga dialami sejumlah petani di Kecamatan Sumber. Petani di Desa Grawan misalnya. Mereka berebut menyedot sisa-sisa air di sungai desa setempat untuk membasahi tanaman padi sawahnya yang juga sedang masuk masa berbulir. “Petani di desa kami banyak yang menyedot sisa-sisa air di sungai untuk menyelamatkan tanaman padinya. Namun, karena yang memanfaatkan banyak, sebentar lagi air sungainya ya habis,” kata Sardi, petani setempat. Ia menyebutkan, dalam tiga hari terakhir, beroperasi setidaknya 50 mesin penyedot air secara serempak, setiap pagi hingga siang hari. “Yang tidak punya mesin penyedot sendiri ya terpaksa menyewa. Ongkos sewa mesin penyedot per jamnya mencapai Rp20.000. Untuk sawah dengan luas sekitar setengah hektare, baru akan basah jika dikucuri air selama setidaknya empat jam,” terangnya. Sardi juga menyebutkan, banyak petani yang mulai was-was dengan menipisnya air sungai di desa setempat. “Karena itu, kami berharap air dari Embung Grawan segera dibuka untuk menyelamatkan tanaman padi petani. Sebab, jika air dari embung tidak segera dialirkan sementara air sungai telah habis, petani terancam gagal panen,” tegasnya. (Puji)

Bagikan untuk keluarga Anda!



One comment
  1. prih

    April 23, 2012 at 9:30 am

    petani seperti ini susahnya kok, kabid pertanian Mulyono ngomongnya enak sekali tinggal masang target sukses atau gagal. mbok mereka para pejabat pengairan dan pertanian itu membuka mata lebar-lebar mncari solusi yang bisa meringankan beban petani. dengan cara beli air tangki seperti ini mestinya pengairan dan pertanian malu dong asal jeplak pasang target hasil panen. dengan cara ini biaya produksi per kg gabahnya bisa mencapai Rp. 8000, sementara di tengkulak mereka hanya dibeli Rp.3100-Rp.3400. ayo melek dong pakai itu pikiran dan otak kalian. jangan asal jeplak, ngatok dan makan uang proyek aja.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan