Mayoritas Sapi Kurban di Rembang Dipasok dari Luar Daerah

Kamis, 17 Oktober 2013 | 14:16 WIB
Hewan Kurban (Foto:Nug)

Hewan Kurban (Foto:Nug)

REMBANG, MataAirRadio.net – Mayoritas sapi kurban di Kabupaten Rembang ternyata dipasok dari luar daerah. Selama ini, Rembang cukup dikenal sebagai penghasil bibit atau bakalan, sedangkan penggemukan dilakukan di luar daerah yang memiliki stok pakan melimpah.

Berdasarkan catatan pada Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang, ada 557 ekor sapi yang dipotong untuk kurban pada perayaan Idul Adha 1434 Hijriah. Kepala Bidang Peternakan Agus Iwan Haswanto membenarkan, mayoritas sapi kurban itu berasal dari luar daerah. Peternak di Rembang, umumnya menjual sapi bakalan, sementara untuk kurban dibutuhkan sapi dewasa.

Jika dibandingkan dengan Hari Raya Kurban tahun lalu, jumlah sapi yang dipotong mengalami penurunan. Tahun lalu, tercatat 689 sapi yang dipotong untuk kurban. Namun demikian jumlah kambing dan domba yang dipotong untuk kurban mengalami peningkatan dari 1.377 ekor pada tahun lalu, menjadi 2.398 ekor pada Idul Adha tahun ini.

Menurut Agus Iwan, sapi yang masuk ke Rembang melalui Pasar Pamotan, berasal dari Provinsi Jawa Timur, Blora, serta Grobogan. Karena berasal dari luar daerah, maka kerawanan terhadap penyakit ternak yang menular ke manusia, menjadi yang paling diwaspadai.

Bidang Peternakan Rembang mengklaim, kabupaten ini aman dari zoonosis berbahaya seperti antraks pada perayaan Kurban tahun ini. Hal itu tercermin melalui pemantauan hewan kurban secara intensif sampai dengan Hari Tasyrik ini.

Namun dari pemantauannya, ditemukan sejumlah kasus yakni temuan cacing hati pada hewan kurban di Kecamatan Sale. Pada kasus yang seperti ini, petugas kesehatan dari Bidang Peternakan, memusnahkan hati dari hewan kurban. Selain itu ada satu sapi di Kragan yang gagal potong akibat menderita demam dan penyakit pada paru-paru.

Karena dipasok dari luar daerah, maka populasi sapi di Kabupaten Rembang sampai dengan Oktober ini masih 116.555 ekor. Memang, jika dibandingkan dengan populasi pada tahun lalu, jumlahnya susut 23 persen. Rembang masih menghuni empat besar pemilik populasi sapi tertinggi di Jawa Tengah, setelah Blora, Wonogiri, dan Grobogan.

Penyusutan populasi sapi di Rembang tidak lepas dari andil ditutupnya keran impor sapi, sehingga banyak sapi lokal yang terserap masuk ke pemotongan dan kebutuhan daging dalam negeri. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan