Rumah Sakit Perketat Pembuangan Sampah Medis

Kamis, 15 Maret 2012 | 08:45 WIB


KOTA – Pihak Rumah Sakit Umum dr R Soetrasno Rembang memperketat pembuangan sampah medis untuk mengamankannya dari tangan pemulung, sebab meski laku banter di pasaran, tetapi berbahaya bagi kesehatan.

Kepala Seksi Informasi pada RSU dr R Soetrasno Rembang, Giri Saputra, Kamis (15/3) mengatakan, pihaknya hampir membakar semua sampah medis dari rumah sakit itu, kecuali botol plastik bekas cairan infus.

“Kami langsung membakar sampah jenis kapas, alat suntik, dan selang infus di incenerator. Sampah medis mengandung kuman berbahaya sehingga harus dibakar di tempat khusus (incenetaror),” kata dia.

Pihaknya sengaja memberlakukan prosedur ketat pengelolaan sampah medis sebagaimana Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) 1204/Menkes/SK/X/2004.

“Untuk sampah jenis botol plastik bekas tempat cairan infus, berdasarkan ketentuan, masih diperbolehkan dikumpulkan oleh petugas kebersihan untuk dijual kembali,” kata dia.

Ia menyebutkan, setiap pagi, ada petugas khusus yang mengangkut sampah medis dari masing-masing bangsal rumah sakit menuju ke ruang incenerator.

“Dalam sehari rata-rata terkumpul sampah medis 86,4 kilogram. Sampah medis itu dibakar dengan suhu 1.000 derajat celcius,” kata dia.

Disebutkan, sampah medis yang masuk ke incenerator RSU dr R Soetrasno tidak hanya berasal dari rumah sakit setempat. “Sampah medis dari RSI Arafah dan sejumlah puskesmas juga masuk ke sini,” kata dia.

Menurut Giri, harga incenerator yang mencapai miliaran rupiah menjadi kendala sejumlah penyedia layanan kesehatan untuk melempar sampah medisnya ke RSU dr R Soetrasno.

“Sesuai ketentuan sampah-sampah medis tidak boleh dibakar di tempat terbuka karena dimungkinkan tidak hancur dengan sempurna. Abu sisa pembakaran sampah medis ini bisa menyebabkan polusi senyawa kimia beracun dioksin,” kata dia.

Ia menambahkan, petugasnya telah diminta untuk menghalau para pemulung yang mencoba masuk ke lingkungan rumah sakit untuk memungut sampah-sampah medis.

“Dulu, pemulung masih ada yang nekat masuk, namun belakangan ini sudah nyaris tidak ada,” kata dia. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan