Robot Transformer dari Seni Origami

Senin, 6 Oktober 2014 | 04:12 WIB
Robot Transformer dari Seni Origami,

Robot Transformer dari Seni Origami.

mataairradio.com – Mainan anak robot transformer mampu berubah wujud dengan melipat diri. Para peneliti meniru teknik tersebut dengan menerapkan ilmu lipatan mirip origami.

Robot baru ini terbuat dari lembaran kertas dan plastik, serta menggunakan energi dari baterai AA. Robot mirip transformer ini juga disamakan dengan seni lipat-melipat Jepang, origami. Setelah membentuk diri, robot bisa bergerak dengan kecepatan 5,4 sentimeter per detik. Robot ini dikembangkan oleh tim peneliti Harvard University dan tim desainnya dipimpin oleh Rob Wood.

Robot ‘transformer origami’ ini adalah robot pertama yang mampu membentuk diri sendiri dan bergerak tanpa intervensi manusia. Sam Felton, ketua tim mengatakan, robotnya mampu “mengambil foto, mengumpulkan data, dan masih banyak lagi”.

Kemungkinan lain adalah, mengerahkan robot yang dilipat secara tipis ke lokasi sempit dan tidak bisa dijangkau oleh manusia. Seperti misalnya lubang dimana korban terjebak setelah adanya gempa bumi. Robot ini juga dimanfaatkan sebagai tempat tinggal yang mampu membangun diri sendiri untuk kawasan yang terkena bencana alam.

Robot terbuat dari kertas dan polistiren, jenis plastik yang digunakan untuk membuat tempat CD. Di tengahnya, ada sirkuit elektronik yang berfungsi sebagai otak. Untuk bisa bergerak dan membentuk diri, robot memanaskan engsel khusus hingga 100 derajat Celsius dan membuka lipatan dari lembaran datar hingga bentuk akhirnya.

Setelah sekitar empat menit, plastik polistiren telah menjadi dingin dan keras. Robot siap untuk bergerak dengan bantuan dua motor. “Kami menciptakan sistem elektromekanis penuh yang disisipkan dalam satu lembaran datar,” ujar Felton sebagaimana dikutip DW Indonesia.

Tim ini memperoleh inspiriasi dari seni tradisional Jepang origami. Software desain 3D bernama Origamizer menciptakan lipatan dalam plastik. Felton juga ungkapkan rencana untuk mengembangkan robot origami dengan bentuk berbeda dan polimer lebih kuat yang membutuhkan suhu panas lebih rendah.

 

Sumbar: DW Indonesia
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan