Puluhan Warga Protes Keberadaan Kotoran Sapi

Senin, 4 Juni 2012 | 07:24 WIB

Puluhan Warga Protes Keberadaan Kotoran Sapi

Tuntut Relokasi : Puluhan warga Dusun Candisari desa Pamotan mengikuti audiensi dengan peternak dan sejumlah Muspika serta kepala Dinas Pertanian Dan Kehuatanan. Mereka mengeluhkan keberadaan peternakan yang berada di tengah pemukiman warga.
     Puluhan warga Dusun Candisari Desa Pamotan Kecamatan Pamotan, Senin pagi (4/6), berbondong-bondong ke kantor desa setempat untuk mengikuti audiensi dengan para peternak sapi yang notabenenya juga warga setempat, dengan difasilitasi pemerintah desa, jajaran Muspika Kecamatan Pamotan serta Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Rembang selaku penyelenggara program. Audiensi tersebut mengagendakan solusi atas keberatan sebagian besar warga dusun Candisari berkenaan dengan ternak sapi melalui program unit pengelola pupuk organik di wilayah itu.
     Menurut warga, keberadaan ternak sapi yang berjumlah puluhan itu selama ini sudah mengganggu kenyaman lingkungan serta sangat rentan terhadap ancaman berbagai penyakit. Mereka menyebut, sapi-sapi milik para peternak berada di tengah lingkungan masyarakat sehingga menciptakan aroma kurang sedap yang berasal dari kotoran sapi.
     “Bau kotorannya memang mengganggu dan sangat mungkin rentan menimbulkan penyakit. Apalagi lokasinya di tengah pemukiman warga,” kata Adib, salah seorang ketua Rt di wilayah itu.
     Adib beranggapan, bahwa lokasi ternak tidak ideal bagi kenyamanan warga yang hampir setiap hari menerima dampak kurang baik. Untuk itu, dirinya bersama warga lainnya meminta pihak terkait agar mencarikan jalan keluar dan win-win solution agar keberadaan ternak tidak menimbulkan gangguan bagi pihak manapun.
     “Yang jelas kami keberatan jika peternakan tetap ditempatkan di tengah lingkungan warga. Sebenarnya kami sudah mengeluhkan sejak Januari yang lalu, namun baru kali ini bisa terealisasi,” ungkapnya.
     Rufiah, warga lainnya juga mengutarakan hal sama. Menurutnya salah satu hal utama yang membuat warga gerah adalah aroma akibat keberadaan peternakan tersebut.
     “Sudah lima bulan ini sejak ada peternakan baunya sangat tidak mengenakan,” tuturnya.
     Pada kesempatan itu pula kepala Desa Pamotan, Andi Sufira menyatakan, bahwa apa yang diinginkan oleh sebagian warganya tersebut cukup beralasan. Pasalnya keberadaan ternak sapi di tengah pemukiman warga merupakan sesuatu yang tidak ideal.
     Ia juga menegaskan, keberadaan program tesebut di desanya berasal dari dinas pertanian dan kehutanan Kabupaten Rembang dan tidak pernah melibatkan pihak pemerintah Desa Pamotan. Dinas pertanian dan kehutanan, kata dia, tidak pernah memberikan surat pemberitahuan atau tembusan berkenaan dengan program itu kepada dirinya selaku kepala desa.
     “Saya tidak pernah diajak sharing berkaitan dengan program itu. yang saya tahu pada waktu itu ada sebagian warga yang meminta tanda tangan pada proposal yang akan diajukan kepada dinas pertanian dan kehutanan untuk pengadaan bantuan ternak,” sebutnya.
     Andi mengatakan, jika dari awal ada koordinasi yang semestinya antara dinas terkait dengan pihaknya, maka pemerintah desa pasti akan mengusahakan lokasi peternakan yang ideal dan tidak menimbulkan gangguan bagi warga.
     “Jika dari awal dinas terkait koordinasi dengan kami, pasti kami akan mengusahakan lokasi ideal bagi peternakan. Sayang mereka tidak koordinasi,” ujarnya.
     Namun begitu, dirinya tetap mengharapkan ada titik temu antara para peternak dan warga yang keberatan karena bagaimanapun program tersebut memiliki manfaat besar bagi pengembangan ekonomi warga.
     “Program tersebur bermanfaat bagi warga dan tetap harus jalan. Namun kita juga harus mencarikan solusi agar tidak ada pihak yang dirugikan,” pangkasnya. (Ilyas)
Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan