PSIR Gagal Tutup Catatan Kelam Kontra Persikab

Sabtu, 25 Februari 2012 | 11:58 WIB


REMBANG– Kekalahan PSIR atas Persikab Kabupaten Bandung cukup menyesakkan. Catatan kelam saat dibantai 6-2 oleh Persikab di leg kedua Copa Indonesia 2008 yang digelar di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, belum mampu ditutup.

Kala itu, meski berhasil menang 2-1 di leg pertama di Stadion Krida, namun pasukan besutan pelatih Edi Simon Badawi kala itu dipaksa menyerah 6-2 dari Persikab Kabupaten Bandung di leg kedua sekaligus menyingkirkan PSIR dari ajang Copa Indonesia musim 2008-2009.

“Kami memang kalah dari Persikab. Tetapi tim sama sekali tidak terbayang-bayang catatan kelam masa lalu. Kami menjadikan hasil itu sebagai pelajaran untuk tidak menganggap remeh Persikab Kabupaten Bandung, meski saat ini mereka berada di dasar klasemen sementara,” kata Kepala Pelatih PSIR, Haryanto.

PSIR, kata Haryanto, jauh hari sudah mengasah sejumlah strategi yang telah diracik khusus. “Namun, kondisi lapangan di Stadion Si Jalak Harupat yang relatif bagus menjadi tidak bersahabat ketika diguyur hujan gerimis. Lapangan terlalu licin,” kata dia.

Secara khusus, Haryanto memang telah menyiapkan strategi kala bermain di bawah guyuran hujan. “Namun lapangan terlampau licin sehingga bola seperti sulit dikendalikan,” kata dia.

Dirijen Gabungan Suporter Rembang (Ganster), Muh Fadlun mengatakan PSIR perlu segera membenahi lini depan permainan. “Penyelesaian akhir perlu menjadi sorotan utama agar sekecil apapun peluang bisa berbuah gol,” kata dia.

Ia mengatakan, meski kalah di Soreang, namun Cristian Lenglolo dan kawan-kawan diyakini akan bisa bangkit kala dijamu PPSM Kartika Nusantara Magelang, pekan depan.

“Semoga ada pelajaran berharga yang bisa diambil oleh PSIR di balik kekalahan atas Persikab,” kata dia. (Puji)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan