Protes Komersialisasi, Warga Rusak Tempat Pengusahaan Air Tanah

Selasa, 14 Agustus 2012 | 08:59 WIB
Tempat pengusahaan air tanah milik Juri di kawasan Bulubagus Desa Karangsekar yang diambrukkan massa, Senin (14/8) malam. (Foto: Pujianto)

KALIORI, mataairradio.net – Puluhan warga berasal dari Dusun Kangin dan Dusun Karangudi Desa Karangsekar, Kecamatan Kaliori, Senin (13/8) malam sekitar pukul 21.00 WIB, nekat merusak dua tempat pengusahaan air tanah yang berada di kawasan Bulubagus desa setempat.

Menurut sejumlah keterangan yang dihimpun mataairradio.net, Selasa (14/8), aksi perusakan itu diduga merupakan puncak kejengahan warga atas tindak komersialisasi air tanah yang dinilai bakal berdampak pada pasokan air bersih di desa itu.

Dua tempat pengusahaan air tanah yang dirusak massa itu masing-masing milik Setu Hadi Harjo dan Juri. Satu unit bangunan untuk tandon air milik Juri yang konon dibangun dengan dana tak kurang dari Rp5juta itu bahkan dirobohkan paksa oleh massa yang beringas.

Sementara bangunan tempat usaha milik Setu Hadi Harjo (60) mengalami kerusakan tak begitu parah. Hanya, di atas genting bangunan untuk tandon air milik mantan Kepala Desa Karangsekar itu, masih berserakan batu-batu.

Massa memang sempat melempari tempat usaha itu dengan batu sebelum akhirnya aksi itu mereda, sesaat setelah Setu menghampiri mereka dan sempat “menawarkan” kematiannya.

Warga mengaku geram karena dua orang itu masih saja nekat mengomersialkan air tanah. Padahal keduanya sudah diperingatkan agar menghentikan operasional usahanya.

Dikonfirmasi mengenai kejadian yang menimpanya, Setu mengaku menyayangkan aksi massa pada malam itu. Menurutnya, kekhawatiran akan kesulitan air yang diduga melatari warga melakukan aksi protes malam itu, terlalu berlebihan.

“Saat ini, warga di desa ini tidak sedang dalam kesulitan air. Apalagi, komersialisasi yang kami lakukan tidaklah dalam skala besar. Sehari paling maksimal lima tangki. Itupun untuk keperluan pengairan lahan pertanian seperti cabai dan melon. Harga air per tangki Rp15.000 dan hanya berjalan saat kemarau saja,” dalihnya.

Meski demikian, lanjut dia, pihaknya sebenarnya tidak keberatan menghentikan usahanya apabila didahului dengan musyawarah untuk menghasilkan solusi terbaik dari pemerintah desa setempat.

“Namun, belum lama ini, kami hanya diberikan surat oleh pihak desa yang isinya meminta pengomersialan air tanah dihentikan. Seketika kami mengadu ke kepala desa untuk meminta solusi. Namun kami diminta menunggu. Sembari menunggu ternyata ada permintaan air untuk ‘dropping’ bantuan air bersih. Ya operasi lagi,” ucapnya.

Juri (30), pemilik usaha komersialisasi air tanah lainnya menuturkan, mestinya warga memberikan kesempatan berembug. “Sebab kita hidup bertetangga, mestinya bisa dibicarakan secara baik-baik. Tidak kemudian merusak seperti ini,” imbuhnya.

Pascainsiden tersebut, Setu dan Jari dipanggil pihak Kepolisian Sektor Kaliori untuk dimintai keterangan. “Kami tidak melaporkan salah satu warga, tetapi hanya memberikan keterangan sebagaimana permintaan polisi. Itu saja,” kata Setu.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kabupaten Rembang Agus Supriyanto menjelaskan, pengusahaan air tanah hanya bisa dilakukan setelah dilakukan kajian atas aspek teknis, sosial, dan lingkungan oleh pihaknya.

“Kalau mereka belum izin, mestinya ya izin terlebih dulu. Apabila ada protes seperti ini, hendaknya pemilik usaha berhenti operasi sementara. Namun terkait tindak anarki, tentu sangat disayangkan. Sebab, upaya mencapai kesepakatan melalui musyawarah masih mungkin ditempuh,” tandasnya.




One comment
  1. sirno

    Agustus 14, 2012 at 1:40 pm

    potret pemerintahan daerah yang tak berdaya menangani masalah warga,karena pemda sudah tidakbisa lagi membedakan mana itu urusan pemerintah dan mana itu urusan perusahaan (pribadi). ujung ujungnya jelas karena agus supriyanto selaku kepala ESDM adalah tukang ngathok kekuasaan. siapa yang berkuasa dia selalu ngathok. dan kabarnya pasangan dua anak dan menantunya juga jadi pegawai karena beli formasi kepada atasannya. kloplah kalo tidak bisa berbuat banyak kecuali membela habis habisan kepentingan bosnnya..

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan