PJTKI Penyalur Sariti Diburu

Jumat, 27 April 2012 | 07:31 WIB

KOTA – Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Rembang menyatakan sedang memburu perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI) penyalur Sariti (40), TKI asal Desa Tawangrejo, Kecamatan Sarang yang kini telantar di Lhokseumawe, Aceh.

Kepala Dinsosnakertrans Kabupaten Rembang, Waluyo, Jumat (27/4) mengemukakan, kejadian yang menimpa Sariti tak bisa dipisahkan dari PJTKI yang memberangkatkannya ke Malaysia, enam bulan silam.

“Setelah kami memastikan bahwa keadaan Sariti sehat, maka langkah selanjutnya adalah menelusuri PJTKI mana yang memberangkatkannya,” terang Waluyo.

Menilik paspor bernomor AR 418098 yang saat ini dipegang Sariti, dokumen perjalanan tersebut diterbitkan oleh pihak imigrasi Surakarta, sehingga kuat dugaan PJTKI penyalurnya berada dalam wilayah hukum daerah tersebut.

Pihaknya mengaku akan menuntut tanggung jawab dari PJTKI tersebut. “Jika berangkatnya baik-baik, mestinya, seterusnya juga harus demikian,” tandasnya.

Apabila PJTKI penyalur Sariti nantinya enggan bertanggung jawab, Waluyo berjanji akan mengadukannya ke Kementerian Sosial RI.

“Untuk saat ini, kami masih intensif memantau perkembangan Sariti via telepon. Untuk memfasilitasi kepulangannya ke Rembang, kami masih harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak Kementerian Sosial di Jakarta,” terang dia.

Seperti diketahui, Sariti yang warga RT 4 RW 2 Desa Tawangrejo tersebut diduga sengaja ditelantarkan agen penyalurnya, 19 April silam. Janda tanpa anak ini ditinggal begitu saja di kapal Arlantic Jet Star yang hendak bertolak dari pelabuhan Klang, Selangor-Malaysia menuju Aceh melalui pelabuhan Tanjung Balai (TB) Sumatera Utara.

Selama perjalanan menuju pelabuhan, Sariti hanya berbekal selembar pakaian. Sementara, pakaian-pakaian lain telah dirampas oleh majikannya di Malaysia.

Saat ini, Sariti tinggal bersama orang yang menolongnya, warga Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe, Aceh bernama Syarbaini atau yang akrab dipanggil Beni.

Kendati pernah diperlakukan kasar ketika bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia, Sariti yang kini sedang berjuang untuk menyembuhkan penyakit kataraknya itu justru masih menyimpan angan untuk kembali bekerja di negeri jiran tersebut.

Sariti memang diketahui telah beberapa kali berangkat mengadu nasib di Malaysia. Hasilnya, Sariti mampu membangun sebuah rumah.

Namun, karena dana yang mepet kala itu, pembangunan rumah pun tersendat sehingga Sariti memilih merantau lagi ke Malaysia, Oktober 2011 silam. Kini, rumah tersebut dihuni kakaknya, Sarni, dan adiknya, Selamet. (Puji)




One comment
  1. sis aditya putra

    April 27, 2012 at 8:07 am

    ya begitulah ciri khas “birokrat yang katanya asli daerah”, melemparkan masalah ke pihak lain menunggu warganya bener-bener mampus! sepanjang masih ada nyawanya ya didiamkan saja, wong isih urip ae. begitu kira-kira bicaranya. wong tki iku yen entuk kaya ae ra tau kabar-kabar apa nyiprat kok apalagi memberi upeti pada para pejabat. Lho memangnya yang disebut DEVISA NEGARA itu ujung-ujungnya tidak yang untuk membayar anda juga pak pejabat!

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan