Petani Tembakau Rembang Sisakan Petik Daun “Emas”

Saturday, 13 September 2014 | 16:01 WIB
Ilustrasi (Foto:Pujianto)

Ilustrasi (Foto:Pujianto)

SULANG, MataAirRadio.net – Petani tembakau di Kabupaten Rembang rata-rata masih menyisakan 15 hari masa petik. Berdasarkan pantauan pada Sabtu (13/9) pagi, petani tinggal memiliki 8-4 daun terakhir atau daun atas. Daun atas tembakau paling dinanti petani karena biasanya mampu menghasilkan kualitas super.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Rembang Maryono mengatakan, meski masa petik tinggal 15 hari, namun penjualan tembakau petani diperkirakan masih akan berlangsung hingga satu bulan mendatang. Sebab, hampir setiap petani memiliki timbunan tembakau yang telah di-bal.

Menurutnya, kapasitas penjualan tembakau per hari dibatasi, sehingga tidak semua tembakau petani langsung bisa turut dijual. Lagi pula tenaga pembelian di perusahaan mitra petani pun terbatas. APTI memang belum menerima batas akhir pembelian tembakau, namun biasanya selalu dikabari.

Sementara itu, menjelang berakhirnya masa petik tembakau, para petani diresahkan oleh aksi pencurian daun tembakau yang masih di pohon. Daun yang dicuri merupakan daun atas yang biasanya masuk kualitas premium. Sejumlah petani di wilayah Kecamatan Sumber dan Bulu mengaku kemalingan daun ini.

APTI Rembang, menurut Maryono, belum mendapat laporan lain tentang pencurian daun atas tembakau, misalnya dari wilayah timur. Mestinya petani tak bosan menyambangi lahan untuk mengantisipasi pencurian. Dia membenarkan, daun atas yang sudah tua, umumnya dinantikan petani.

Maryono mengaku tidak mau mengira-ngira apakah pencuri daun atas berasal dari oknum petani kemitraan atau petani mandiri. Jika daun curian dijual ke petani kemitraan, maka melacaknya akan sulit. Namun jika ditadahkan ke petani mandiri, maka akan langsung kelihatan, karena daunnya akan berbeda.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah petani tembakau di Desa Randuagung Kecamatan Sumber mengaku kehilangan 4-5 daun atas di lahan mereka. Pencuri diduga beraksi saat menjelang magrib atau ketika petani sudah tak lagi di lahan.

Meski nilai kerugian yang ditanggung setiap petani disebut tak seberapa, namun aksi ini tetap saja meresahkan. Apalagi para petani tembakau kini dipaksa kemit atau berjaga pada malam hari. Mereka berjaga sejak menjelang magrib hingga larut malam. (Pujianto)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan