Lampaui Titik Impas, Petani Tembakau Mulai Petik Untung

Minggu, 28 September 2014 | 16:06 WIB

 

Ilustrasi (Foto:Pujianto)

Ilustrasi (Foto:Pujianto)

BULU,MataAirRadio.net – Petani tembakau di Kabupaten Rembang rata-rata telah melampaui titik impas modal alias mulai memetik keuntungan dari tanamannya. Padahal, saat ini petani masih menyisakan 20-30 persen tembakau di lahan.

Yoto, petani tembakau di Desa Lambangan Kulon Kecamatan Bulu mengaku sudah menjual 38 bal atau mendekati dua ton tembakau dari lahan seluas 1,5 hektare miliknya. Dia menyebut masih ada sekitar 30 persen tembakau dilahannya.

Modin desa yang menyambi sebagai petani tembakau ini mengakui sudah balik modal bahkan sudah menabung keuntungan. Keuntungannya akan tambah berlipat karena sekitar 30 persen daun tembakau yang tersisa, diyakini masuk kualitas super dengan harga mulai Rp26.000 per kilogram karena daun atas.

insert

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang Yosophat Susilo Hadi mengonfirmasi, dari hasil pantauan, daun tembakau yang masih ada di lahan memang sekitar 20 persen. Dia menekankan, sudah 80 hasil panen tembakau petani yang masuk dan dibeli oleh perusahaan mitra.

Menurutnya, tidak semua petani menyisakan tingkat jumlah daun sisa yang sama, terutama petani yang menanam seperempat hingga setengah hektare. Dia pun menyebut, hampir semua petani sudah melampaui titik impas. Dan bagi mereka yang telah tuntas petik, dipastikan bisa menabung keuntungan.

Soal akhir masa pembelian dari perusahaan mitra, dia mengaku belum mendapat kabar. Namun melihat perkembangan sejauh ini, pembelian akan dibatasi hingga dasarian ketiga bulan Oktober mendatang. Setelah itu, petani yang memiliki tembakau di-reject total, dipersilakan menjual ke pihak lain.

insert

Dedi Kusmayadi, Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) PT Sadana Arif Nusa di Rembang mengatakan, jika petani taat pada standar operasional dan prosedur pengembangan tembakau, mereka hampir pasti menuai keuntungan.

Soal hujan intensitas tinggi yang sempat terjadi di Rembang dan dikhawatirkan berpengaruh terhadap pertanian tembakau, Dedi menyebut hanya memiliki dampak sekitar 10 persen. Khusus terkait akhir pembelian, pihaknya memang belum menentukan karena masih menanti laporan dari setiap PPL. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan