Cuaca Basah, Petani Tebu Menunda Tebang

Selasa, 11 Juni 2013 | 14:12 WIB
Petani Tebu

Petani Tebu

GUNEM, MataAirRadio.net – Tidak hanya petani tembakau yang dipusingkan dengan tingginya intensitas curah hujan belakangan ini sehingga memunculkan serangan hama ulat. Petani tebu di Kabupaten Rembang pun tengah mumet dengan melonjaknya ongkos panen seiring guyuran hujan pada dua pekan belakangan.

Petani tebu di Desa Demaan Kecamatan Gunem misalnya. Lantaran ongkos panen melambung, mereka lebih memilih menunda tebang setidaknya untuk satu bulan ke depan sekaligus berharap adanya peningkatan rendemen atau kadar gula dalam tebu.

Susilo Utomo, seorang petani tebu di desa itu Selasa (11/6) pagi mengatakan, pada minggu-minggu ini petani setempat sebenarnya sudah saatnya memanen “pohon kehidupan” mereka.

Jika memaksakan memanen tebu di lahan perkebunan yang jauh dari jalan, ongkosnya bisa membengkak. Biaya tebang yang pada cuaca normal hanya Rp50.000 per ton, akan bisa melonjak menjadi Rp80.000 per ton ketika cuaca basah seperti sekarang.

Maryono, petani tebu lainnya di Desa Karangharjo Kecamatan Sulang menambahkan, selain ongkos tebang yang melonjak Rp30.000 per ton, produktivitas tenaga tebang pada saat cuaca basah juga menurun.

Jika pada cuaca normal, lima hingga enam orang bisa menghasilkan tebangan hingga satu rit atau tujuh ton tebu dalam sehari, maka saat cuaca basah paling banyak hanya lima ton.

Selain itu, angkutan pun menjadi sulit menjangkau daerah yang agak jauh dari jalan raya. Lagi-lagi jika dipaksakan tebang, petani harus merogoh biaya tambahan untuk mengangkut tebu dari lahan hingga jalan raya.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang Yosophat Susilo Hadi mengatakan, akibat cuaca basah tidak banyak petani di kabupaten ini yang memanen tebunya pada Juni ini.

Ia mengaku belum bisa menyebutkan pasti berapa hektare dari 8.000 hektare lahan tebu di Kabupaten Rembang yang panen pada Mei dan Juni 2013. Namun menurutnya hanya sebagian kecil petani yang panen. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan