Gangguan Cuaca, Petani Tak Bisa Tanam Palawija

Senin, 15 Juli 2013 | 14:05 WIB
Tanaman Jagung

Tanaman Jagung

GUNEM, MataAirRadio.net – Sebagian besar petani di Kecamatan Gunem dan Rembang mengaku tidak bisa menanam palawija setelah musim tanam kedua akibat masih terjadinya gangguan cuaca.

Mayoritas dari mereka masih membiarkan lahannya menganggur, meski ada yang sudah diolah sebagian. Medi, seorang petani di Desa Sambongpayak Kecamatan Gunem yang ditemui Senin (15/7) pagi mengaku, umumnya petani di daerahnya dilanda kebingungan.

Pasalnya, bibit yang mereka sediakan tidak bisa ditanam. Jika memaksakan diri, tanaman bisa mati kebanyakan air. Sebagian petani lain yang sudah terlanjur menanam palawija seperti jagung dan kacang hijau juga dilanda kecemasan, karena hasilnya rawan tidak maksimal.

Petani di Desa Sambongpayak saat ini menanam tanaman jenis tebu dan tembakau. Selain tidak bisa menanam palawija, gangguan cuaca pun mengundang datangnya hama tanaman.

Wanto, petani lainnya di Desa Kumendung Kecamatan Rembang mengaku pula, banyak petani yang masih membiarkan lahan pertaniannya alias belum digarap.

Bahkan beberapa petani ada yang menganggurkan lahannya sejak panen musim tanam pertama. Gangguan cuaca memang membuat petani menjadi tidak hanya kesulitan, tetapi tidak bisa melakukan tanam palawija.

Menurutnya, pada saat cuaca berlangsung secara normal, petani di desanya menanam tanaman jenis mentimun, kacang hijau, dan kacang tanah.

Sementara itu, berdasarkan kabar yang dihimpun MataAir Radio anomali suhu muka laut tiga derajat celsius di atas pola normal di Samudra Hindia berpotensi menimbulkan gangguan cuaca setidaknya tiga sampai enam bulan ke depan.

Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edvin Aldrian mengatakan, anomali suhu muka laut tiga derajat celsius di atas pola normal memang jarang, tetapi di Samudra Pasifik tahun 1997 pernah terjadi.

Ahli oseanografi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Fadli Syamsudin menambahkan, Samudra Hindia termasuk jalur sirkulasi laut skala global. Samudra Pasifik barat sekarang sedang hangat. Hal ini menyumbang naiknya suhu muka laut di Samudra Hindia yang sebelumnya banyak dipengaruhi fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) negatif. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan