Pertanyakan Rencana Pembersihan Ranjau, Dandim Usul Tim Independen

Kamis, 3 Mei 2012 | 07:09 WIB


KOTA – Komandan Komando Distrik Militer (Kodim) 0720 Rembang Letkol (Arm) Dedy Jusnar Hendrawan mengusulkan pembentukan tim independen guna memastikan tidak adanya penyimpangan, terkait rencana pembersihan dua zona sekitar pelabuhan umum nasional di Sendangmulyo, Sluke dari ranjau.

“Rencana pembersihan kawasan sekitar pelabuhan dari ranjau untuk kali ini perlu dipertanyakan. Sebab, dengan Rp2 miliar yang dulu itu (pembersihan ranjau pada 2010, red.), ranjau di wilayah perairan yang menjadi areal pelabuhan mestinya telah benar-benar habis,” terang Dedy ketika ditemui seusai menghadiri upacara pembukaan Sirkuit Nasional Bola Voli Pantai Indonesia Open Bupati Cup Seri II di Pantai Caruban, Lasem, Kamis (3/5).

Keberadaan tim independen tersebut, jelas Dandim, penting pula untuk mengantisipasi praktek kongkalikong yang mungkin ada di balik rencana pembersihan ranjau pada dua zona yang masing-masing memiliki luas 127,71 hektare dan 92,75 hektare atau total seluas 220,046 hektare tersebut.

Seperti diketahui, Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) merekomendasikan pembersihan dua zona di sekitar lokasi pelabuhan umum nasional di Sendangmulyo, Sluke dari ranjau dasar magnetik berbahaya peninggalan Jepang dan Sekutu pada sekitaran 1942.

Komandan Satuan Kapal Ranjau Komando Armada RI Kawasan Timur (Satran Koarmatim) Kolonel Laut (P), Benny Sukandari, pada Rabu (2/5), memaparkan rekomendasi itu ke Bupati Rembang Mochammad Salim.

Dua zona yang akan dibersihkan dari ranjau itu konon akan dimanfaatkan sebagai areal tempat bongkar muat muatan kapal dan persandaran kapal yang hendak mengantre bongkar.

Keberadaan areal bongkar itu diyakini bakal mendatangkan banyak rupiah ketika pelabuhan sudah beroperasi. Sebab, kapal-kapal yang sedang bongkar muat ataupun yang sedang mengantre tentu membayar ‘pas’ atau semacam retribusi.

Dedy mengemukakan, sebelum dilakukan pembersihan dari ranjau, zona-zona yang direkomendasikan perlu ditelusuri terlebih dahulu keterkaitannya dengan sejarah masa lalu.

“Kalau disebutkan ada ranjau sisa-sisa perang era Jepang, adakah perang yang berlangsung di sekitar Perairan Sluke. Harus ada buktinya,” kata dia.

Tak hanya soal kesejarahannya, lanjut dia, sebelum pembersihan dilakukan, perlu pula dipastikan secara fisik bentuk ranjaunya. “Sebab, kalau ranjau itu sisa perang di era Jepang, tentu sudah terpendam bermeter-meter di dasar laut. Karena itu, bukti fisiknya perlu ditunjukkan. Jangan hanya dengan cerita,” kata dia.

Apalagi, kata dia, anggaran yang konon akan digunakan untuk melakukan pembersihan ranjau kali ini terbilang besar. “Anggarannya hingga Rp6 miliar lho. Kalau itu digunakan untuk merehabilitasi gedung sekolah yang sudah rusak bisa dapat 60 sekolah,” ketusnya.

Dedy berharap Pemkab Rembang menyampaikan rencana pembersihan ranjau secara proporsional dan terbuka kepada masyarakat agar tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari.

“Selama ini, rencana pembersihan dua zona tersebut dari ranjau terkesan tertutup dan dilakukan tanpa ada koordinasi dengan sejumlah pihak yang mestinya terkait. Sejumlah pejabat yang kami hubungi mengaku tidak tahu menahu soal rencana itu. Makanya perlu tim independen yang memantaunya,” ujar dia.

Dandim menambahkan, tim independen itu setidaknya terdiri dari unsur aparat di wilayah setempat, Polri dan TNI, serta lembaga swadaya masyarakat. “Kami tentu menyesalkan jika rencana ini sampai terealisasi tanpa adanya koordinasi dengan pihak-pihak yang mestinya terkait,” tegasnya. (Puji)




4 comments
  1. elsa haq

    Mei 3, 2012 at 8:04 am

    ranjau berbahaya bekas PD II di Sluke adalah a historis!
    hanya ladang korupsi para pejabat korup!

    pernyataan mereka para pejabat yang menyatakan bahwa ada ranjau yang berbahaya di sekitar Sluke peninggalan PD II (1942) adalah a historis. sayang bupati katanya lulusan S2 sejarah tapi hanya casing saja, tidak ada isinya. sama sekali tidak tahu sejarah. memprihatinkan sekali. jelas proyek pembersihan yang katanya mengacu sejarah itu hanya akal-akalan saja. sejarah ranjau di perairan sluke adalah a historis. cara gampang korupsi. tapi sayang terlalu kasar. dan kasihan kalo tipu daya seperti ini harus melibatkan lembaga sebesar Koarmatim!

    Reply
  2. Anonymous

    Mei 3, 2012 at 11:23 am

    Sblm komentar tlg belajar dl ttg peta laut

    Reply
  3. Anonymous

    Mei 4, 2012 at 4:22 am

    Pak Kodim suaranya kenceng sekali, kayanya habis dikasih makan nih.. Buntut buntutnya pengen jadi bupati, begitu jadi bupati diam seribu bahasa.

    Reply
  4. suryo samudro

    Mei 4, 2012 at 4:56 am

    belajar peta laut apa kang anonim. coba jelaskan petanya versi para koruptor itu! ranjau itu datang dari mana kemana untuk apa coba jelaskan. peta buatan siapa, sejarawahan mana yang terlibat dalam pembuatan itu. terus situasi terkininya seperti apa. dan untuk kepentingan apa biar rakyat jelas! referensinya mana. jangan ngarang untuk kepetingan sesaat. 8Milyar itu uang besar untuk rakyat rembang yang miskin ini. yang jelas biar tidak gelap gulita seperti ini.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan