Produksi Hasil Pertanian Terancam Alih Fungsi Lahan

Minggu, 28 Oktober 2012 | 16:46 WIB

REMBANG – MataAirRadio.net Bangunan perumahan dan permukiman di Kabupaten Rembang, sepuluh tahun terakhir terus tumbuh. Praktis, lahan pertanian pun berkurang dan produksi hasil pertanian jelas terus menyusut.
Di Desa Ngulahan Kecamatan Sedan misalnya. Pembukaan lahan persawahan untuk keperluan permukiman bahkan berlangsung sangat agresif.
Haryanto, salah seorang warga desa setempat mengungkapkan, desanya semula hanya memiliki tiga pedukuhan masing-masing Dukuh Geneng, Ledok, dan Sriwil.
Namun sejak 2001 sampai dengan tahun ini, muncul ratusan permukiman baru dan tergabung dalam tiga dukuh anyar masing-masing Dukuh Karanganyar, Kopen, dan Babatan.
Menurutnya, permukiman baru itu lebih banyak merupakan hasil menyulap lahan sawah dan sangat sedikit yang merupakan lahan tegalan sebelumnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang, Mulyono, mengakui, luas lahan pertanian setiap tahunnya terus mengalami pengurangan akibat bertambahnya perumahan dan permukiman.
Namun, di tengah ancaman berkurang terusnya lahan pertanian, Kabupaten Rembang telah mendapatkan amanat dari Provinsi Jawa Tengah untuk mengamankan luasan lahan pertanian pangan berkelanjutan (LPPB) seluas 37.320,17 hektare untuk setidaknya hingga lima tahun ke depan.
Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dintanhut) Kabupaten Rembang mencatat, sampai dengan triwulan pertama 2012, masih terdapat seluas 30.105 hektare lahan basah dan 37.582 lahan kering di kabupaten itu.
Mulyono menegaskan, karena ketahanan pangan akan selalu menjadi isu strategis, para petani diimbau tidak melakukan alih fungsi lahan produktif menjadi permukiman atau perumahan.
Pihaknya pun berharap agar Badan Pertanahan Nasional, tidak asal teken atas setiap permohonan alih fungsi lahan yang diterimanya. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan