Warga Tegaldowo Penolak Pabrik Semen Bertambah

Sabtu, 29 Juni 2013 | 11:23 WIB
Grafiti atau coretan berisi penolakan tersebut tidak hanya terpampang di 20 rumah warga, tetapi sudah menjadi 23 rumah. (Foto:Zam)

Grafiti atau coretan berisi penolakan tersebut tidak hanya terpampang di 20 rumah warga, tetapi sudah menjadi 23 rumah. (Foto:Zam)

GUNEM, MataAirRadio.net – Aksi penolakan pendirian pabrik semen oleh PT Semen Indonesia di wilayah Tegaldowo Kecamatan Gunem meluas. Grafiti atau coretan berisi penolakan tersebut tidak hanya terpampang di 20 rumah warga, tetapi sudah menjadi 23 rumah.

Nardi, seorang warga Desa Tegaldowo yang dihubungi Sabtu (29/6) pagi mengungkapkan, pemilik masing-masing dari 23 rumah tersebut memasang tulisan penolakan dengan cara menyemprotkan cat pada sebagian dinding bangunan rumah.

Dirinya memperkirakan, jumlah rumah yang memasang tulisan penolakan akan bertambah lagi, mengingat kesadaran warga akan dampak berdirinya pabrik semen terhadap pertanian mereka, mulai tumbuh.

Pristianto, seorang warga yang rumahnya dipasangi tulisan penolakan mengaku tidak akan menghapus coretan di dinding rumahnya. Apa yang tertulis itu, menurutnya adalah ungkapan dari kekhawatirannya apabila pabrik semen jadi berdiri.

Keluarganya pun berharap Pemerintah mengkaji ulang rencana pendirian pabrik semen tersebut. Benarkah memberikan dampak baik bagi warga sekitar, atau malah sebaliknya.

Pada kesempatan terpisah, Sekretaris PT Semen Indonesia (Persero) Agung Wiharto menilai, aksi penolakan dari warga justru menjadi tantangan kepada pihaknya untuk membuktikan bahwa keberadaan pabrik semen akan lebih banyak mendatangkan dampak positif bagi masyarakat.

Menurutnya pro kontra atas rencana pendirian pabrik semen adalah hal biasa. Persoalannya tinggal bagaimana memberikan pemahaman kepada warga di sekitar pabrik dan lahan tambang. Namun dirinya memperkirakan, peletakan batu pertama pabrik tetap akan dilakukan tahun ini. (Zamroni)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan