Penggunaan Ramsol Perpendek Umur Meja Garam

Jumat, 25 Mei 2012 | 08:23 WIB


KALIORI – Sejumlah petani garam di Kecamatan Kaliori mengaku enggan menggunakan lagi bubuk ramsol di musim produksi tahun ini, lantaran mereka menilai penggunaan ramsol tidak cukup efektif.

Menurut Mastur (47), penggarap tambak garam asal Dusun Wates Desa Tasikharjo, Jumat (25/5), petani setempat mengaku kapok menggunakan bubuk yang banyak dipasok dari Indramayu tersebut.

“Penggunaan bubuk ramsol memang cukup efektif untuk memperpendek pembentukan kristal garam. Namun, gara-gara menggunakan bubuk tersebut, meja garam menjadi cepat rusak. Umur meja garam pun menjadi pendek,” kata dia.

Mastur menjelaskan, apabila produksi garam dilakukan secara alami, tanpa ramsol, meja garam bisa digunakan hingga tiga kali proses produksi, bahkan lebih.

Namun, dengan ditaburi bubuk ramsol, meja garam hanya akan bisa digunakan untuk paling banyak dua kali produksi. “Jika menggunakan ramsol, begitu selesai produksi garam untuk kali kedua, meja garam akan langsung mengalami pecah-pecah,” kata dia.

Jika meja garam sering pecah, lanjut dia, maka untuk membuat (meja garam) yang baru, dibutuhkan waktu paling sedikit satu minggu sehingga petambak kini mulai beralih ke pembuatan garam secara alami.

“Barangkali (meja garam yang mudah pecah) itu karena lahan tambak di Rembang tidak cocok jika mengadopsi ramsol. Buktinya tidak hanya di wilayah Kaliori, di kawasan Pasarbanggi Kecamatan Kota Rembang pun demikian,” kata dia.

Ia menyebutkan, karena tidak lagi menggunakan ramsol, dirinya membiarkan begitu saja puluhan kilogram bubuk yang dibuat dari campuran rumput laut, kerang-kerangan, dan sekam itu, di rumahnya.

Awalnya, ramsol dipopulerkan kepada petani garam di Kabupaten Rembang lantaran bubuk tersebut, konon berguna untuk memperpendek pembentukan kristal garam sehingga bisa cepat dipanen.

Proses pemakaian ramsol pun diklaim dapat menghasilkan garam yang berkualitas, lebih putih, mengkilat, dan berbobot. “Namun ternyata, tidak semua lahan tambak garam petani di Rembang, cocok mengadopsi ramsol,” kata Rasno, seorang petambak garam di Desa Pasarbanggi, Kecamatan Kota Rembang.

Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang pun tidak akan memaksakan penggunaan ramsol oleh kelompok petani garam apabila sebagian petani enggan menggunakannya.

“Penggunaan ramsol oleh petani garam itu bukan lah sebuah keharusan. Karena itu, kami tidak memaksakan penggunaannya,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang, Suparman.

Pihaknya mengaku memahami alasan petani garam menolak menggunakan ramsol. “Barangkali memang karena karakteristik lahan yang tidak cocok,” kata dia. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan