Pemerintah Gratiskan Biaya Perawatan Korban Keracunan

Kamis, 22 Maret 2012 | 06:57 WIB


KRAGAN – Pemerintah menggratiskan biaya perawatan bagi 30 orang korban keracunan legen, warga Dusun Mbayon Desa Woro, Kecamatan Kragan, baik 15 orang yang dirawat inap di Puskesmas Kragan II maupun yang menjalani rawat jalan.

Kepala Puskesmas Kragan II, dokter Ali Syofii yang dihubungi melalui saluran telepon, Kamis (22/3) mengatakan, dari 30 orang warga yang mengalami keracunan, hanya empat orang yang memiliki kartu jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas).

“Namun, karena Pemerintah mengategorikan peristiwa keracunan tersebut sebagai kejadian luar biasa, maka biaya perawatan untuk ke-30 orang warga itu digratiskan,” kata dia.

Ia pun mengatakan, sebanyak 15 orang warga yang dirawat di Puskesmas Kragan II dilaporkan sudah sembuh dan diperbolehkan pulang ke rumah mereka masing-masing, Rabu (21/3) petang.

“Ya, mereka sudah pulang pada Rabu (21/3) sore. Kondisi mereka sudah membaik. Persoalan ini sudah bisa diatasi tuntas,” kata dia.

Pihaknya berharap agar warga bisa memetik pelajaran dari kejadian tersebut. “Setelah kejadian itu, kami berharap agar warga semakin berhati-hati dalam mengonsumsi makanan, mulai dari penyiapan hingga kebersihannya,” kata dia.

Kepala Kepolisian Sektor Kragan, Ajun Komisaris Polisi Imam Siswanto mengatakan, sejauh ini, belum ada warga yang mempersoalkan kejadian keracunan tersebut atau bahkan melaporkan Winarsih, pedagang legen kelilingan.

Sebanyak 30 warga Dusun Mbanyon Desa Woro, Kecamatan Kragan, Senin (19/3) malam sekitar pukul 19.30 WIB, dilarikan ke Puskesmas Kragan II karena keracunan diduga akibat menenggak legen yang dijual oleh pedagang keliling pada Sabtu (17/3) pagi.

Kejadian bermula ketika beberapa orang warga di dusun itu membeli minuman jenis legen yang dijajakan keliling kampung oleh Winarsih (30), warga Dusun Srambit desa setempat, pada Sabtu (17/3) sekitar pukul 09.00 WIB.

Selama tiga tahun terakhir, legen yang dijual Rp4.000 per botol ukuran 1,5 liter oleh Winarsih tersebut, diketahui aman-aman saja. Namun, ketika itu, beberapa jam berselang, sejumlah warga mengalami muntah, berak, pusing, dan mengeluh perutnya sakit; mereka diduga keracunan.

“Sejauh ini belum ada warga yang merasa keberatan. Kami pun belum memeriksa Winarsih,” kata dia.

Atas kejadian yang bermula pada Sabtu (17/3) pagi itu, pihaknya sekadar melakukan pendataan terhadap para korban. “Soal hasil kajian laboratorium atas sampel legen, itu wewenang Dinas Kesehatan setempat,” kata dia.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun, keluarga Winarsih sempat mengalami kepanikan, bahkan anaknya sempat akan kabur untuk mengindari kemungkinan amuk massa. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan