Pembuatan Jalan Usaha Tani Kembali Dilanjutkan

Selasa, 21 Februari 2012 | 07:39 WIB


SUMBER – Pembuatan jalan usaha tani sepanjang 2,9 kilometer antara Jatigenuk-Sumber akhirnya kembali dilanjutkan, setelah pada Minggu (19/2) hingga Senin (20/2), alat berat jenis “backhoe” berhenti beroperasi lantaran sebagian warga menuntut ganti rugi atas tanaman mereka yang digulung paksa.

“Warga yang tanaman padinya sudah cukup umur, akhirnya buru-buru memanennya. Sementara, bagi yang tanamannya masih muda, terpaksa merelakan begitu saja,” kata salah seorang warga Desa Sumber, Darkasi, Selasa (21/2).

Ia mengatakan, sejumlah warga yang memiliki tanaman diperlintasan bakal jalan itu tidak memiliki pilihan lain, kecuali merelakannya. “Jika pun kami ngotot meminta ganti rugi, pemerintah desa tetap saja tidak bakal mengabulkannya. Kami serba salah,” kata dia.

Sebagian besar petani pun, kata dia, kini hanya bisa pasrah melihat tanaman yang telah diperjuangi dengan keringat dan biaya itu digulung “backhoe”. “Kami tinggal berharap semoga keberadaan jalan ini benar-benar bermanfaat di kemudiannya,” kata dia.

Namun, Fahrur, warga lainnya tetap meminta pemerintah desa bertanggung jawab. “Kesalahan terbesar adalah pembangunan jalan yang tidak berdasarkan hasil rapat, sehingga menyisakan masalah baru,” kata dia.

Ia juga mengatakan, akibat pembuatan jalan yang melenceng dari kesepakatan waktu tersebut, bukan hanya petani yang menjadi korban lantaran harus memanen padinya lebih cepat, tetapi banyak pohon jati ikut tergusur.

“Padahal dalam musyawarah belum lama ini, pohon jati milik kami dijamin aman,” kata dia.

Fahrur tetap mengupayakan agar keresahan warga berakhir dengan pembicaraan secara damai. “Hanya, kalau tidak ada yang bertanggung jawab atas pelanggaran kesepakatan tersebut, jalur hukum mungkin akan kami tempuh,” kata dia.

Pembuatan jalan usaha tani dan industri sepanjang 2,9 kilometer yang diklaim bisa mempermudah akses para petani di dua dusun, Dusun Jatigenuk dan Bulaksempu Desa Sumber, dihentikan sementara sejak Minggu (19/2). Pasalnya, meski sejak awal warga tidak berkeberatan jika tanahnya dipakai sebagian untuk membuka poros jalan tersebut, namun mereka meminta ganti rugi atas tanaman padi dan jati yang digulung paksa, sebelum pembuatan jalan kembali dilanjutkan.

Sebelumnya, sejumlah petani di Dusun Jatigenuk Desa Sumber, Kecamatan Sumber, menyoal pembuatan jalan usaha tani dan industri, penghubung dusun itu dengan desa setempat, lantaran dibuat sebelum mereka memanen tanaman padinya.

Padahal dalam musyawarah desa yang belum lama ini digelar, dicapai permufakatan bahwa pembuatan poros jalan tersebut akan dilakukan setelah masa panen. Namun, kini, pada saat sebagian tanaman padi petani masih dalam masa berbulir (masak susu, red.), pembuatan jalan sudah dilakukan.

Kepala Desa Sumber, Sucipto mengklaim, saat ini sudah tidak ada masalah lagi dengan pembuatan jalan itu, sehingga pihaknya memerintahkan operator “backhoe” untuk kembali beroperasi.

“Dari 102 warga yang memiliki tanaman atau tanah di sepanjang bakal jalan tersebut, seratus di antaranya sudah menyatakan setuju pembuatan jalan dilanjutkan. Selasa (21/2) pagi, ‘backhoe’ beroperasi lagi,” kata dia. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan