Pembuatan Jalan Usaha Tani Disoal

Kamis, 16 Februari 2012 | 07:44 WIB


SUMBER – Sejumlah petani di Dusun Jatigenuk Desa Sumber, Kecamatan Sumber, menyoal pembuatan jalan usaha tani dan industri, penghubung dusun itu dengan desa setempat, lantaran dibuat sebelum mereka memanen tanaman padinya.

“Pada musyawarah desa belum lama ini, tercapai permufakatan bahwa pembuatan poros jalan tersebut akan dilakukan setelah panen. Namun, kini, pada saat sebagian tanaman padi petani masih dalam masa berbulir (masak susu, red.), pembuatan jalan sudah dilakukan,” kata salah seorang petani setempat, Sarwi (62), Kamis (16/2).

Akibatnya, lanjut dia, banyak tanaman padi petani yang digulung paksa oleh alat berat, “backhoe”. “Sawah saya tergerus 30×5 meter, demikian juga tanaman padinya, akibat pembuatan jalan itu,” kata dia.

Ia menyebutkan, kerugiannya akibat tanaman padi yang musnah pada lahan seluas itu sekitar Rp300.000. “Kami berharap ada ganti rugi dari pemerintah desa atas tanaman padi yang musnah akibat pembuatan jalan itu,” kata dia.

Sebenarnya, secara umum, tandas dia, petani tidak sama sekali berkeberatan dengan pembuatan poros jalan sepanjang 2,9 kilometer tersebut apabila dibuat setelah petani memanen padinya. “Kami pun tidak bisa memanen dini karena umur padi baru 2,5 bulan,” kata dia.

Berdasarkan pantauan di lapangan, tanaman yang dipaksa musnah akibat pembuatan jalan tersebut tidak hanya padi, tetapi juga tebu, ketela, mangga, dan jati.

“Kami memang terbantu dengan jalan yang sedang dibuat ini karena bisa memperpendek akses ke Sumber dan memudahkan petani mengangkut hasil panen. Namun, jika harus mengorbankan tanaman padi yang satu bulan lagi sudah bisa dipanen, tentu disayangkan,” kata Kasmuri, petani lainnya.

Ia pun mengaku kehilangan dua batang pohon mangga dan beberapa meter lahan pertaniannya akibat pembuatan jalan tersebut. “Mestinya, pemerintah desa bisa sedikit bersabar menanti petani panen sebelum memulai pembuatan jalan,” kata dia.

Menanggapi persoalan ini, Kepala Desa Sumber, Sucipto mengklaim tidak ada warganya yang keberatan dengan pembuatan jalan tersebut kendati dilakukan sebelum semua petani panen.

Pihaknya bahkan menyebut petani secara sukarela menebang atau memanen dini tanaman padinya untuk kepentingan pembuatan jalan. “Tentang ganti rugi, itu tidak ada. Pemerintah desa tidak ada dana untuk membayar ganti rugi tanaman yang musnah,” kata dia.

Ia menjelaskan, pembuatan poros jalan sepanjang 2,9 kilometer tersebut dilakukan secara swadaya oleh desa setempat. “Selain untuk memperpendek akses warga Dusun Jatigenuk yang hendak ke Sumber, pembuatan jalan juga akan dioptimalkan sebagai jalur usaha tani dan industri masing-masing terhadap Dusun Bulaksempu dan Dusun Jatigenuk Desa Sumber,” kata dia.

Sucipto enggan mengomentari pembuatan jalan yang dilakukan tidak menunggu setelah masa panen. “Yang jelas, pemerintah desa sudah berupaya memberikan yang terbaik bagi warga dengan pembuatan jalan ini,” kata dia. (Puji)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan