Operasi Gratis Penderita Sumbing Bibir Bukan Fasilitasi APBD

Sabtu, 1 September 2012 | 08:06 WIB
Denik Silvia, warga RT 3 RW 1 Desa Sumberjo Kecamatan Rembang, membawa anaknya, Muhammad Arsen Dana Pradipto, 3 bulan, untuk dioperasi sumbing bibirnya. (Foto: Pujianto)

KOTA, mataairradio.net – Sebanyak 17 anak penderita sumbing bibir dan langit-langit mendapatkan fasilitasi operasi gratis yang diselenggarakan Yayasan Permatasari bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Rembang, Sabtu (1/9).

Operasi yang diselenggarakan dengan anggaran bukan berasal dari dana publik (APBD, red.) itu digelar di RSUD dr R Soetrasno Rembang dan dihadiri juga oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Rustriningsih.

Rustriningsih dalam sambutannya menyatakan, belakangan ini, hampir setiap minggu pihaknya bersama Yayasan Permatasari bergerak untuk menyelenggarakan kegiatan sejenis di sejumlah kabupaten di Jawa Tengah.

“Hari ini (1/9) di Rembang. Kegiatan ini diselenggarakan bukan dengan fasilitasi jamkesda atau jamkesmas, melainkan dari dana di luar dana publik (APBD, red.),” tandasnya.

Ia juga menyebutkan, stok dana untuk menggelar kegiatan serupa (operasi sumbing bibir dan langit-langit, red.), masih cukup digunakan untuk melakukan penanganan penderita kelainan serupa, berapapun jumlah pasiennya.

“Berapapun pasien (penderita sumbing bibir dan langit-langit, red.), kita siap melakukan tindakan operasi. Namun, tentu saja, operasi hanya dilakukan terhadap pasien yang sudah memenuhi persyaratan yang antara lain harus memenuhi standar berat badan, usia, dan kadar hemoglobinnya,” katanya.

Sementara itu, Bupati Rembang, Mochammad Salim yang mengutip sebuah data kesehatan menyebutkan, angka kejadian bibir sumbing sekitar satu dari 750 kelahiran, sedangkan langit-langit bercelah sekitar satu dari 2.500 kelahiran.

“Kelainan ini sebaiknya segera ditangani, sebab bila tidak akan bisa memengaruhi pertumbuhan normal rahang serta perkembangan bicara. Waktu yang paling baik untuk operasi adalah ketika bayi berumur 10 minggu, berat badannya setidaknya 10 pon, dan Hb>10g%,” terangnya.

Oleh karena itu, Ketua panitia kegiatan itu, Supriyo Utomo mengatakan, dari sebanyak 20 peserta operasi yang terdaftar, hanya 17 anak yang bisa dilakukan operasi. “Alasannya ya tadi, mungkin dari sisi usia yang belum cukup atau berat badannya yang kurang atau kadar Hb-nya yang terlalu rendah,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Permatasari, Endang Sri Sarasti menambahkan, pada umumnya, sumbing bibir dan langit-langit terjadi karena selama dalam kandungan, jabang bayi mengalami kekurangan gizi.

“Karena itu, sangat penting bagi seorang ibu atau orang tua memerhatikan kehamilannya setidaknya pada tiga bulan pertama,” katanya seraya menambahkan pada kegiatan bakti sosial itu, pihaknya membawa serta tiga orang ahli bedah untuk penanganan operasi sumbing bibir dan langit-langit bagi 17 anak itu. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan