Nyemplung Sumur, Mahasiswa Ini Tewas

Rabu, 2 Oktober 2013 | 16:13 WIB
Diduga sedang terganggu kejiwaannya, seorang remaja yang tercatat sebagai mahasiswa semester lima STIE YPPI Rembang nekat nyemplung sumur. (Foto:Wahyu)

Diduga sedang terganggu kejiwaannya, seorang remaja yang tercatat sebagai mahasiswa semester lima STIE YPPI Rembang nekat nyemplung sumur. (Foto:Wahyu)

REMBANG, MataAirRadio.net – Diduga sedang terganggu kejiwaannya, seorang remaja yang tercatat sebagai mahasiswa semester lima STIE YPPI Rembang nekat nyemplung sumur berkedalaman sekitar 13 meter dan tewas pada Rabu (2/10) pagi. Remaja itu Wakhid Syahrudin (21), warga RT 1 RW 4 Dukuh Gayam Desa Pulo Kecamatan Rembang.

Wakhid diketahui berlari dengan keadaan telanjang bulat menuju sumur yang berada di samping belakang rumahnya. Di belakangnya, bapak dan ibunya, Karsono dan Pasiati, serta seorang kerabatnya bernama Ade Setiawan, sempat mengejar.

Namun Wakhid tetap memilih menceburkan diri ke sumur dengan kedalaman air sekitar tiga meter. Padahal bapak, ibu, dan seorang kerabat itu sempat memegang tangan Wakhid sebelum terjun. Ade Setiawan menuturkan, Wakhid mengalami gangguan jiwa sejak sebulan terakhir.

Kondisi kejiwaannya sempat normal hingga dua minggu. Namun empat hari belakangan, kondisi mentalnya kembali terganggu. Ade mengaku tidak mengetahui penyebab pasti labilnya kejiwaan Wakhid. Yang dia tahu, Wakhid merupakan aktivitis pecinta alam.

Proses evakuasi Wakhid dari dasar sumur sempat menuai kesulitan. Sebab kedalaman air sumur mencapai tiga meter. Warga menyikapinya dengan menyambung dua tangga bambu untuk mengaitkan tali tambang ke tubuh korban. Setelah hampir satu jam, Wakhid bisa dievakuasi dalam kondisi tersandar di dasar sumur dan sudah tak bernyawa.

Syaiko Rosyidi, salah seorang dosen di STIE YPPI Rembang membenarkan bahwa Wakhid Syahrudin merupakan mahasiswa pada program studi Akuntansi. Menurutnya, terakhir kali, Wakhid bertandang untuk main ke kampus pada awal September lalu. Yang bersangkutan belum sempat mengenyam kuliah di semester gasal, karena baru saja lepas dari libur semesteran.

Sabtu (29/9) kemarin Wakhid diketahui sempat berkirim pesan singkat atau SMS ke beberapa teman kampusnya untuk mengingatkan salat subuh. Syaiko yang dekat dengan sejumlah aktivitis pecinta alam di kampusnya, juga mengaku mendengar informasi bahwa Wakhid sedang terganggu kejiwaannya.

Sementara itu, Pasiati ibunda Wakhid tampak histeris melihat anaknya telah terbujur kaku tanpa nyawa. Beberapa kali Pasiati jatuh pingsan. Jenazah Wakhid selanjutnya disucikan dan kemudian dimakamkan di tempat pemakaman umum desa setempat. Tampak beberapa sahabat Wakhid semasa hidup bertakziah di rumah duka. (Wahyu Salvana)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan