Menambang Awak Tongkang, Pekerjaan Alternatif Nelayan Bonang

Selasa, 20 Maret 2012 | 08:17 WIB


LASEM – Sejumlah nelayan di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, kini memiliki pekerjaan alternatif yakni menambang awak kapal tongkang pengangkut batu bara, dari tengah laut ke pantai desa setempat.

“Tongkang pemasok batu bara ke PLTU Sluke umumnya mengantre bongkar selama beberapa hari di laut. Biasanya, sebagian awak tongkang akan menggunakan jasa nelayan untuk mengantarkan mereka ke pantai dan selanjutnya berbelanja perbekalan sembari menunggu saatnya bongkar,” kata Ketua RT 2 RW 1 Desa Bonang, Mustofa, Selasa (20/3).

Berdasarkan pantauan, sebanyak tiga kapal tongkang kini bersiap merapat ke kawasan PLTU Sluke. “Kapal-kapal tongkang tersebut membongkar muatannya secara bergantian, sehingga yang belum mendapat giliran bongkar akan parkir untuk beberapa hari,” kata dia.

Menurut Mustofa, ada sedikitnya sepuluh perahu nelayan setempat yang selama ini akrab digunakan untuk tambangan. “Beberapa awak kapal tongkang itu umumnya berbelanja kebutuhan untuk makan dan minum serta perlengkapan mandi dari beberapa toko milik warga di desa ini,” kata dia.

Disebutkan, nelayan biasanya mengenakan tarif jasa per sekali tambang, pulang pergi, antara Rp100.000-Rp200.000. “Namun, awak kapal tongkang itu tidak selalu membayarnya dengan uang tunai. Atas jasanya, beberapa nelayan penambang ada yang mau dibayar dengan minyak tanah beberapa liter,” kata dia.

Ia menambahkan, penghasilan dari tambangan tersebut menjadi alternatif pekerjaan sebagian nelayan yang sedang mengalami paceklik tangkapan ikan. “Hanya, untuk menambang, nelayan melihat cuaca. Biasanya pagi hingga siang hari sekitar pukul 12.00 WIB, nelayan menambang awak kapal tongkang,” kata dia.

Seorang awak kapal tongkang pengangkut batu bara asal Lampung yang enggan menyebutkan namanya, mengaku kerap memanfaatkan jasa tambangan dari nelayan setempat.

“Kapal kami sedang mengantre bongkar muatan batu bara. Saya bersama seorang teman baru saja membeli perlengkapan mandi dan sebuah lampu petromak kerajinan warga setempat dengan jasa tambangan ini,” kata dia yang mengaku kelahiran Blitar, Jawa Timur.

Kehadiran nelayan penambang tersebut, kata dia, diakuinya cukup membantu awak kapal yang hampir kehabisan perbekalan. “Yang demikian (menambang), tidak hanya ada di sini, tetapi di banyak wilayah pantai yang dekat dengan PLTU,” kata dia yang seorang teknisi kapal. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan