Selamatkan Peninggalan Megalitikum, Pemkab Akan Beli Lahan Situs Terjan

Senin, 11 Maret 2013 | 17:54 WIB
Situs Terjan peninggalan zaman megalitikum.

Situs Terjan peninggalan zaman megalitikum.

KRAGAN, MataAirRadio.net – Pemerintah Kabupaten Rembang akan membeli lahan tempat berdiamnya situs prasejarah peninggalan Zaman Megalitikum di Desa Terjan Kecamatan Kragan dari pemiliknya.

Pembelian lahan seluas 2.468 meter persegi oleh Pemkab tersebut merupakan bagian dari langkah penyelamatan Situs Terjan dari ancaman penambangan di kawasan setempat.

Dari pantauan reporter MataAir Radio, Senin (11/3) pagi, lahan sekitar situs memang sudah dikuasai para pemilik tambang, sehingga jika tidak segera dilindungi, dikhawatirkan tanah yang masih dimiliki perseorangan itu juga akan lepas ke tangan pemilik tambang.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rembang Sunarto mengatakan, pembebasan lahan tapak situs itu tinggal menunggu kesepakatan dengan pemilik lahan, Darsan yang merupakan warga Desa Sendangwaru Kecamatan Kragan.

Menurutnya, pengukuran oleh pihak Badan Pertanahan Nasional sudah dilakukan. Namun mengenai anggarannya, Sunarto mengaku tidak hafal persis. Penyelamatan Situs Terjan penting untuk melindungi aset wisata sekaligus peninggalan sejarah yang teramat langka.

Pada kesempatan terpisah, Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang Hamzah Fatoni menyebutkan, pembebasan tanah Situs Terjan sudah dianggarkan Rp100 juta. Pembelian lahan situs tersebut diharapkan sudah akan tuntas pada tahun ini.

Seperti diketahui, Situs Terjan merupakan peninggalan zaman 294 Sebelum Masehi dan berdiam di Bukit Selodiri pada ketinggian 105 meter di atas permukaan laut.

Situs prasejarah ini merupakan areal pemakaman zaman batu besar, karena pernah ditemukan kerangka manusia dikubur di tengah areal situs. Ada sejumlah arca batu, kursi batu, dan batu tegak berdiri setinggi 50 meter bernama Selodiri.

Empat arca di Situs Terjan pernah dirusak orang tak dikenal pada awal Desember 2011. Namun sampai sekarang, pelaku perusakan arca berbentuk kepala katak, naga, buaya, dan kuda tersebut belum juga berhasil ditangkap. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan