Mayoritas Warnet Di Rembang Tak “Blocking” Konten Pornografi

Jumat, 27 April 2012 | 08:32 WIB

KOTA – Sebagian besar warung internet (warnet) di Kabupaten Rembang tak melakukan “blocking” konten pornografi dan perjudian sehingga pengelola diminta menertibkannya.

Menurut Petugas Pembinaan Warnet Sehat Dinhubkominfo Kabupaten Rembang, Rustopa pada Sosialisasi Warnet Sehat di Sanggar Budaya Kabupaten Rembang, Jumat (27/4), kewajiban pengelola warnet untuk memblokir situs porno, konten porno, dan atau yang mengandung unsur judi diatur dalam Peraturan Bupati Nomor 32 Tahun 2011.

“Sebagaimana ketentuan Pasal 11 Perbup Nomor 32 Tahun 2011, pengelola warnet wajib pula mengingatkan, menegur, bahkan mengusir pengguna jasa warnet bila mengakses situs porno dan atau konten porno serta mengakses situs yang mengandung unsur judi,” terang dia.

Pada sosialisasi yang diikuti puluhan pengusaha warnet di Kabupaten Rembang itu, Rustopa juga mengemukakan, untuk menekan tingkat akses konten atau situs porno, pengelola diminta untuk tidak membuat bilik dengan ketinggian sekat lebih dari 0,75 meter.

“Kalau mengacu Perbup, maka monitor komputer di warnet pun harus menghadap ruang terbuka. Ketinggian bilik penyekat juga tidak boleh melebihi 75 centimeter,” kata dia menjelaskan.

Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kabupaten Rembang mencatat, sampai dengan April 2012, jumlah warung internet telah mencapai tak kurang dari 72 warnet. Dari jumlah itu, 90 persen di antaranya memiliki bilik dengan ketinggian lebih dari satu meter.

“Warnet yang dikelola perseorangan saat ini sudah mencapai 60 warung. Ditambah 12 warnet lainnya yang merupakan bantuan dari Kementerian Kominfo, maka jumlahnya kini mencapai 72 warnet,” kata dia.

Selain belum dilakukannya “blocking” konten pornografi, kata Rustopa, sebagian besar warnet di Rembang juga diketahui belum berizin. Jumlahnya pun cukup fantastis, mencapai 90 persen.

“Tak hanya itu, 90 persen warnet juga memanfaatkan perangkat lunak ilegal. Kami berharap pengelola warnet serius menaati ketentuan, terutama soal ‘blocking’ situs atau konten porno karena 50 persen lebih pelanggan warnet adalah pelajar dan anak-anak serta remaja,” tandasnya.

Kepala Dinhubkominfo Kabupaten Rembang Suyono menambahkan, pemblokiran situs porno dan atau situs mengandung unsur perjudian dilakukan untuk menekan dampak negatifnya.

“Cara yang paling mudah adalah memasang DNS nawala pada server warnet atau pada masing-masing komputer pengguna (client),” terang dia.

Suyono juga meminta, orang tua melakukan pengawasan kepada anak-anaknya dalam menggunakan internet. “Tidak hanya di warnet, tetapi juga ketika memanfaatkan layanan internet di rumah,” pintanya. (Puji)




2 comments
  1. rista imaya

    April 27, 2012 at 3:16 pm

    yang parno itu otak lo bukan internetnya

    Reply
  2. Bunda geva

    Mei 2, 2012 at 8:23 am

    Teknologi itu ibarat sebilah pisau tajam, bisa dibuat menyembelih ayam buat hajatan atau bahkan bisa dibuat melukai orang. Sudah selayaknya kita turut prihatin jika ternyata “pisau”(teknologi) disalah-gunakan. Apalagi pengguna warnet sebagian besar anak2 usia remaja, usia labil yg diajak kesana hayuuuk diajak ke sini mauuuuk.. Di Medan petugas menemukan anak2 usia SD sdg mengakses situs porno di sebuah warnet. Coba jika itu terjadi pd anak anda atau adik anda? Saya sgt respect dgn aturan yg telah pemerintah putuskan. Smg bukan sekedar keputusan belaka. Rakyat butuh kerja keras pemerintah daerah Rembang.

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan