Mayoritas Rumah Makan Belum Dilengkapi Dokumen Lingkungan

Senin, 7 Januari 2013 | 18:23 WIB

REMBANG – MataAirRadio.net, Mayoritas rumah makan atau restoran di Kabupaten Rembang diduga belum dilengkapi dengan dokumen upaya pemantauan dan pengelolaan lingkungan, apalagi instalasi pengelolaan air limbah.

Apalagi, belakangan sebuah warung makan berkapasitas cukup besar yang menyajikan menu serba pedas di pinggir jalur Pantura turut Desa Kabongan Lor Kecamatan Rembang, juga diketahui belum memiliki dokumen lingkungan tersebut.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Rembang Purwadi Samsi kepada reporter MataAir Radio, Senin (7/1) siang menjelaskan, anjuran penekanan pentingnya instalasi pengelolaan air limbah termasuk cara membuatnya, biasanya baru diberikan kepada pelaku usaha ketika mereka mengurus dokumen pemantauan dan pengelolaan lingkungan ke pihaknya.

Namun, Purwadi mengungkapkan, nyaris tidak ada pengelola rumah makan yang secara sadar mengurus dokumen lingkungan ke pihaknya. Rencana memberikan sosialisasi secara kolektif pun akan digantinya dengan surat tertulis ke setiap pelaku usaha rumah makan juga hotel.

Sementara itu, keluhan warga Desa Kabongan Lor Kecamatan Rembang terkait limbah dari warung makan penyaji menu serba pedas atau Warung Cabe yang berada di tepi Jalur Pantura turut desa setempat akhirnya direspon pihak pengelola warung makan tersebut.

Pejabat sementara Kepala Desa Kabongan Lor Mohammad Syamsu Komarudin mengungkapkan, pada pertemuan yang dihadiri sekitar 30 orang warga, Sabtu (5/1) malam kemarin, disepakati antara lain pembuangan limbah air dari warung makan tersebut akan dialihkan ke selokan bagian belakang warung, menuju ke laut berjarak sekitar 300 meter.

Namun karena lebar saluran air yang melintasi dua rukun tetangga atau RT masing-masing di RT 1 dan 2 kurang lebar, pengelola warung harus melebarkan saluran tersebut terlebih dahulu. Selain itu, pengelola warung makan tersebut juga wajib memisahkan masing-masing limbah cair dan padat, dan membuangnya sendiri ke tempat sampah.

Sebelum persoalan ini mencuat, limbah dari warung makan hanya dibuang dengan cara mengalirkan air sisa ke saluran di bawah trotoar dan dengan mudah meresap ke tanah dan mencemari sumur warga.

Sementara itu, Manajer warung makan “Cabe”, Safar menyatakan akan menjalankan kesepakatan tersebut. Ia juga menyatakan akan merealisasikan segera hasil kesepakatan.

Meski kesepakatan yang dicapai pada Sabtu (5/1) malam itu hanya secara lisan, namun pihak pemerintah desa menegaskan akan segera menuangkan butir kesepakatan tersebut dalam sebuah dokumen resmi. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan