Matheus Sempat Telan 10 Pil Penghilang Rasa Nyeri

Rabu, 3 Oktober 2012 | 04:00 WIB
Mayat Matheus Wicaksono saat dievakuasi dari ruang Kepala Paroki, Rabu (3/10). (Foto: Pujianto)

KOTA, mataairradio.net – Matheus Wicaksono, seorang petugas pembantu bendahara pada Credit Union (CU) “Sami Pitados” Paroki Gereja Santo Petrus Paulus di Jalan Diponegoro Kota Rembang yang tewas setelah menggorok lehernya sendiri, ternyata sempat menelan 10 pil penghilang rasa nyeri sebelum nahas Rabu (3/10) pagi.

“Kami menemukan sisa dua butir pil penenang tak jauh dari tubuh Matheus. Biasanya satu set berisi 12 butir. Kami menduga, sebelum menggorok lehernya sendiri, Matheus sudah menelan 10 butir,” ungkap Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Rembang AKP Joko Santoso di lokasi kejadian.

Tak hanya menemukan sisa dua butir pil penenang, pihaknya juga menemukan lima luka sayatan cukup dalam di tangan kiri Matheus. “Tidak hanya satu pisau tak bergagang (cutter, red.) yang ditemukan, tetapi ada tiga bilah,” kata Kasatreskrim.

Kasatreskrim juga mengungkapkan, berdasarkan hasil olah tempat kejadian sementara dan sejumlah barang bukti, ada kecenderungan Matheus sengaja bunuh diri.

“Motifnya menjurus pada stres kerja dan beban keluarga. Matheus adalah anak pertama di keluarganya dan menjadi tulang punggung keluarganya di Purwodadi, Grobogan. Sebelum kejadian, Matheus ternyata sempat mengeluh ketidakberesan pekerjaannya di CU ‘Sami Pidatos’,” bebernya.

Seperti diketahui, seorang pria lajang yang sehari-hari bekerja sebagai petugas pembantu bendahara pada Credit Union (CU) “Sami Pitados”, Matheus Wicaksono (31), ditemukan tergelak bersimbah darah dan sudah tak bernyawa di ruang Kepala Paroki setempat, sekitar pukul 08.00 WIB.

Kejadian itu kali pertama diketahui oleh seorang petugas di paroki setempat, Emeliana Sarasati Utami (20. Awalnya, Sarasati mencium bau amis dari dalam ruang Kepala Paroki.

Ia pun membuka ruangan itu. Sarasati terperanjat. Seorang pria yang diketahui sebagai rekan kerjanya di Credit Union, tergeletak di lantai dengan simbahan darah. Segera dihubunginya romo gereja setempat. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan