Masyarakat Diimbau Tenang Sikapi Setakhong

Jumat, 22 Juni 2012 | 07:49 WIB
Ketua Yayasan Xin Rulin, Lucia Herawati (kanan) memaparkan alasan kemunculan Setakhong, Jumat (22/6).

REMBANG – Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kabupaten Rembang Kartono mengimbau masyarakat Lasem tetap tenang menyikapi kemunculan Sekolah Tinggi Agama Khonghucu (Kong Jiao Shu Yuan) atau Setakhong.

“Saran kami pada masyarakat, untuk tenang dulu menjaga kondusivitas agara tetap aman dan bisa dikendalikan. Jangan sampai ada anarkhistis,” pinta Kartono seusai menemui dua perwakilan Setakhong di Kantor Kesbangpolinmas setempat, Jumat (22/6).

Pihaknya menyatakan akan mengomunikasikan reaksi masyarakat atas keberadaan Setakhong tersebut kepada Bupati. “Sejauh ini, Pemkab memang belum pernah diajak berkomunikasi terkait Setakhong tersebut,” ungkap dia.

Reaksi masyarakat berupa keresahan atas kemunculan tiba-tiba Setakhong yang berkampus di Jalan Raya Lasem-Surabaya Kilometer 3 Lasem, Rembang tersebut berawal dari sebuah laman di internet yang mengatasnamakan Sekolah Tinggi Agama Khonghucu.

“Dalam web itu, seolah-olah di Rembang sudah ada Stekhong, padahal kan belum. Akibatnya, muncul perang opini di masyarakat Lasem, sehingga masyarakat menanggapi kok tahu-tahu ada Setakhong. Protes dari masyarakat Lasem ada memang,” ujar Kartono.

Ia mengungkapkan, pemerintah desa maupun kecamatan setempat pyn mengaku belum pernah diajak koordinasi atau setidaknya pemberitahuan. “Tahunya, bangunan yang disebut sebagai kampus itu oleh warga diketahui hanya untuk kawasan pergudangan,” kata dia.

Karena itu, pihaknya menyarankan agar Yayasan Xin Rulin maupun pemprakarsa Setakhong menggunakan prosedur yang benar sesuai dengan persyaratan untuk mendirikan sekolah tinggi. “Ini agar dikonsultasikan pula ke Kemenag Pusat,” kata dia.

Ia pun meminta pihak pengurus agar melayangkan pemberitahuan kepada pemerintah kabupaten setempat atas aktivitasnya. “Walaupun kewenangan perizinan sekolah tinggi ada di Pemerintah Pusat, tetap saja Pemerintah Kabupaten harus diberi tahu,” kata dia.

Ketua Yayasan Xin Rulin, Lucia Herawati seusai bertemu Kepala Kantor Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kabupaten Rembang, Jumat (22/6) berdalih, Setakhong masih dalam persiapan sehingga belum ada kegiatan.

“Kami memang belum melakukan sosialisasi kepada masyarakat lantaran Setakhong masih dalam proses pengurusan perizinan ke Kementerian Agama RI dan belum ada kegiatan. Kami tentu masih harus menunggu Peraturan Menteri Agama (PMA) sebelum beroperasi,” ujar Lucia. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan