Manusia dan Kucing Dalam Tabrak Lari

Sabtu, 18 Februari 2012 | 09:57 WIB


TABRAK lari menambah daftar catatan kecelakaan di wilayah Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Rembang. Sepekan terakhir, setidaknya seorang meninggal akibat kasus tabrak lari. Adalah Suyuti, 24 tahun, warga Desa Bajing Meduro, Kecamatan Sarang menjadi korban kecelakaan seperti ini, Kamis (16/2). Belum lagi kecelakaan sejenis yang tidak sampai menyebabkan korban meninggal dunia.

Kepala Satlantas Polres Rembang Ajun Komisaris Polisi Dudi Pramudia pun memberikan tanggapan atas kasus tabrak lari yang belakangan menjadi pergunjingan hangat. “Pengendara yang cenderung ugal-ugalan dan tidak tertib menjadi salah satu penyebab kecelakaan. Sementara kondisi jalur yang sepi dan apatisme warga sekitar menjadi penyebab tabrak lari,” kata dia kepada suararembang, Jumat (17/2).

Selain itu, kesadaran pengendara pelaku tabrak lari untuk melapor apalagi menyerahkan diri ke kepolisian relatif minim. Hantu berupa bogem mentah massa diduga menjadi alasan mereka melapor atau menyerahkan diri.

AKP Dudi Pramudia pun menyindir pelaku tabrak lari yang tak berinisiatif menyerahkan diri. Mestinya, pelaku tabrak lari bisa konsisten dengan perilaku di masyarakat kebanyakan; seseorang yang menabrak kucing, justru rela melepas baju yang menempel di badannya untuk segera merumat ‘korban’nya. Kalau perlu hingga menguburkannya dengan alasan tidak mau sial di hari kemudiannya.

“Sangat disayangkan jika pengguna jalan, pelaku tabrak lari, memilih kabur. Padahal, jika mereka mau menyerahkan diri ke kepolisian, itu lebih solutif. Mereka mestinya mempertanggungjawabkan perbuatannya,” kata dia.

Kasatlantas juga mengemukakan, warga sekitar lokasi kejadian mestinya buru-buru melapor kepada petugas kepolisian terdekat bilamana terjadi tabrak lari. “Kesulitan kami melakukan pengejaran pelaku tabrak lari kerapa terkendala oleh keterlambatan laporan dari warga. Selain itu juga ketiadaan saksi,” kata dia.

Padahal, kata dia, mengungkap dan menangkap pelaku tabrak lari, terutama di jalur Pantura Kabupaten Rembang terbilang tidak sulit. “Rembang memiliki jalur, sepanjang pintu masuk hingga keluar, yang relatif panjang. Masih mungkin dilakukan pengejaran. Apalagi jika pelakunya kendaraan besar,” kata dia.

Karena itu, warga yang terdekat dengan jalan raya diminta tidak cuek jika mendengar suara benturan atau teriakan minta tolong pada malam hari. “Segeralah keluar dan lihat apa yang terjadi. Segera laporkan jika ditemui ada korban kecelakaan dan pelaku penabrak mencoba kabur. Setidaknya dengan mencatat nomor polisi kendaraan,” kata dia.

Sebagai antisipasi kasus tabrak lari, imbuh dia, pihaknya sudah menggencarkan patroli jalan raya. “Malam hari, kami ada patroli rutin sepanjang jalur pantura untuk mengantisipasi kasus tabrak lari ini dan menekan adanya aksi balap liar,” kata dia.

Secara khusus, ia juga mengimbau agar setiap pejalan kaki berjalan di trotoar dan menyeberang melalui garis penyeberangan atau “zebra cross”. “Jika setiap orang berhati-hati dan waspada atas perilakunya di jalan rayaa, kecelakaan akan bisa ditekan,” kata dia. (Puji)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan