Lissa Wahid: Kartini Itu Tidak Latah

Minggu, 21 April 2013 | 19:53 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

REMBANG, MataAirRadio.net – Raden Ajeng Kartini kembali diperingati kelahirannya pada 21 April ini. Kartini mengajarkan pada perempuan masa kini tentang arti penting ketidaklatahan terhadap zaman atau sesuatu yang jamak.

Demikian menurut Alissa Qotrunnada Munawarah atau yang akrab disapa Lissa Wahid, putri sulung mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur saat berbincang dengan reporter MataAir Radio melalui saluran telepon, Minggu (21/4) pagi.

Lissa yang diminta komentarnya terkait Kartini berpendapat bahwa pahlawan kelahiran Jepara itu menonjol pada zamannya karena ia berani keluar mendobrak posisi perempuan yang hanya ditempatkan menjadi “konco wingking” atau teman di belakang layar ketika itu.

Menurut pendiri lembaga bantuan kemanusiaan Sapa Persada Indonesia ini, Kartini mengajarkan kepada perempuan di masa sekarang untuk memahami tantangan zaman, tidak begitu saja mengikuti tren, tidak latah, dan ikut jamaknya saja.

Lissa yang merupakan pegiat pendidikan, gender, dan pluralisme Indonesia itu mengatakan, nilai-nilai yang diambil dari perjuangan sosok Kartini adalah apa yang seharusnya ada dalam kehidupan, itu yang mestinya diperjuangkan.

Menurut pengelola PAUD Fastrack Funschool Yogyakarta ini, Kartini bukan sekadar soal emansipasi dan perempuan yang ingin keluar dari keterkungkungan, melainkan juga pada semangat dan strategi.

Lissa menambahkan, Kartini masa kini pun mestinya berani keluar dari kelaziman dimana kelaziman itu dianggap tidak layak. Misalnya, saat bekerja di sebuah institusi yang hampir semua orangnya korupsi, maka hendaknya “Kartini” zaman ini pun bisa belajar untuk keluar dari yang demikian.

Lissa Wahid juga menilai, memperingati Hari Kartini tidak cukup strategis jika dilakukan dengan sekadar meminta para anak mengenakan kebaya bagi perempuan atau berblangkon bagi yang laki-laki.

Yang demikian memang merupakan strategi, namun tidak cukup mengingatkan anak pada sosok Kartini. Mestinya, menurut Lissa, peringatan Hari Kartini lebih ditonjolkan pada misalnya bagaimana anak-anak belajar dari surat-surat yang ditulis oleh Kartini dan kemudian berbincang dengan kawan-kawannya mengenai surat itu. (Wahyu Salvana)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan