Ladang Ilmu dari Pemuda “Drop Out”

Senin, 28 Oktober 2013 | 13:53 WIB
Margono berburu buku bacaan untuk warga, meski hanya dari loakan. (Foto:Puji)

Margono berburu buku bacaan untuk warga, meski hanya dari loakan. (Foto:Puji)

SUMBER, MataAirRadio.net – Pemuda ini hanya tiga bulan mencicipi pendidikan di bangku sekolah menengah pertama. Namun semangat mengerek minat baca warga di desanya, seperti bara yang membara. Baginya, membaca adalah tonggak perubahan suatu bangsa dan negara.

Namanya Margono, lahir 17 Juli 1973. Dia tinggal di RT 5 RW 2 Desa Megulung Kecamatan Sumber. Kegelisahan atas banyaknya anak muda yang mewarnai hari hanya dengan nongkrong, melecutnya untuk berbuat manfaat.

Di tengah kondisi Pemerintahan yang kurang memberikan akses membaca bagi masyarakat, ia mulai menata niat. Menurutnya percuma saja terlalu mengkritik, sebab perubahan sejati datang dari diri sendiri.

Dikumpulkannya uang dan sedikit donasi dari mereka yang peduli. Margono lantas berburu buku bacaan untuk warga, meski hanya dari loakan. Setumpuk buku tentang pertanian; mulai cara bercocok tanam yang jempolan hingga penanganan hama tanaman, disuguhkan.

KUHP pun dikoleksi; sekadar pengendali untuk warga agar tidak berlaku tak terpuji. Sampai dengan Senin 28 Oktober ini, sudah 10 tahun, Margono mengelola perpustakaan rakyat Balai Kambang. Perpustakaan sederhana untuk warga.

Meski sempat dianggap orang gila karena berlaku untuk kegiatan yang tidak berupiah, dia tetap melaju. Margono menopang hidupnya dari mengerjakan pesanan pahatan kayu dan usaha kecil-kecilan di rumah.

Perpustakaan Balai Kambang kini mengoleksi sekitar 2.000 buku yang umumnya tentang pertanian. Selain itu, buku-buku tentang sosok pemimpin, seni, dan hukum, juga telah terhidang untuk pembaca. Perpustakaan ini bisa diakses 24 jam.

Margono sempat membeber ikhwal nama Balai Kambang untuk perpustakaan yang dikelolanya bersama enam pemuda desa. Balai Kambang berarti tempat yang indah untuk para pujangga; tempat yang indah untuk warga dalam membuka dunia.

Setiap hari, paling sedikit 10 orang berkunjung ke perpustakaan ini. Dalam perkembangannya pun, Balai Kambang juga dimanfaatkan sebagai kedai atau warung informasi warga.

Mereka berkonsultasi tentang hukum dan pertanian dengan dasar buku. Bagi yang tidak jelas membaca tulisan, salah satu dari pengelola rela menjadi buku berjalan.

Melalui momentum peringatan ke-85 Sumpah Pemuda ini, Margono mengajak sesama untuk mempertahankan sumpah agar tidak bergeser menjadi sampah pemuda; pemuda yang malas dan berlaku culas. Ia juga mengajak berbuat walaupun kecil, untuk bangsa ini.

Belakangan, minat baca warga Desa Megulung khususnya, mulai membaik. Setidaknya itu yang diamini Edy Nurseto, pemuda desa setempat. Remaja pantarannya, banyak yang menjadikan Balai Kambang sebagai tempat alternatif berkumpul. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan