Kualitas Pengecatan Markah Jalan Pantura Disoal

Sabtu, 11 Februari 2012 | 04:29 WIB

KOTA – Sejumlah pengguna jalan di jalur pantura Kota Rembang mempertanyakan kualitas pengecatan markah dan pita kejut di beberapa ruas karena saat ini kondisinya sudah mulai rusak dan luntur warnanya, padahal pembuatannya belum genap lima bulan.

Berdasarkan pantuan, Sabtu (11/2), kondisi markah di sejumlah titik jalan nasional itu kini sudah hilang tak berbekas. Di ruas jalur pantura Kota Rembang misalnya, pita kejut yang dibuat menonjol agar pengendara waspada saat melintas di jalan yang masuk wilayah Desa Sukoharjo, kini sudah mulai rata dengan aspal. Warna putihnya pun mulai memudar.

“Nampaknya pita kejut dan markah dikerjakan asal jadi dengan kualitas rendah. Padahal jalur pantura banyak kendaraan besar seperti truk dan bus,” Sujarwo, salah seorang pengguna jalan.

Markah jalan dan pita kejut mulai dibuat setelah ruas jalan tersebut rampung diperbaiki tahun lalu. Pembuatan pita kejut di 24 titik di ruas jalur itu, dari Kota Rembang hingga Lasem, dilakukan Oktober 2011.

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informasi (Dishubkominfo) Kabupaten Rembang Suyono mengaku sudah menginventarisasi kerusakan markah jalan di sepanjang jalur nasional, provinsi, maupun kabupaten.

“Kerusakan markah dan rambu di jalan nasional dan provinsi akan kami laporkan ke pemprov Jateng dan meminta segera ada perbaikan,” kata dia.

Suyono enggan mengomentari kualitas markah, namun pihaknya menengarai kerusakan itu disebabkan oleh banyak hal. “Perbaikan dan perawatan ruti jalan berlubang kerap membuat markah jalan terkorbankan. Cuaca terikpun bisa saja membuat aspal jalan meleleh dan cat markah rusak,” kata dia.

Ia mengemukakan, Pemkab Rembang tahun ini menganggarkan dana sekitar Rp330 juta, masing-masing untuk menambah markah jalan (Rp100 juta), rambu (Rp100 juta), dan pengadaan pembatas jalan (guard drill) Rp130 juta.

“Tambahan markah dan rambu kami prioritaskan di jalan kabupaten yang telah dilebarkan. Pembatas jalan akan dipasang di ruas jalan yang menikung tajam, terutama di daerah pegunungan seperti Sale, Gunem, dan Bulu,” kata dia. (Puji)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan