Klinik Konseling Sukarela HIV/AIDS Minim Peminat

Rabu, 17 Juli 2013 | 16:29 WIB
Budi Dharmawan, Kepala Seksi Penunjang Medis di RSUD dr R Soetrasno Rembang. (Foto:Puji)

Budi Dharmawan, Kepala Seksi Penunjang Medis di RSUD dr R Soetrasno Rembang. (Foto:Puji)

REMBANG, MataAirRadio.net – Meski sudah beberapa tahun berdiri, klinik konsultasi dan tes sukarela atau VCT terhadap kemungkinan terjangkit HIV/AIDS di Rumah Sakit Umum Daerah dr R Soetrasno Rembang masih saja minim peminat.

Padahal, Kepala Seksi Penunjang Medis di RSUD dr R Soetrasno Rembang Budi Dharmawan yang ditemui Rabu (17/7) pagi mengatakan, jika pun seseorang memeriksakan diri di klinik VCT, pengunjung berhak meminta agar tidak perlu diberitahu hasil pemeriksaannya.

Mestinya, klinik konseling tersebut dimanfaatkan warga di kabupaten ini untuk memastikan apakah yang bersangkutan tertular HIV atau tidak, terutama mereka yang berisiko tinggi. Di VCT, setiap pengunjung akan diberikan pengetahuan tentang apa itu HIV/AIDS secara sukarela.

Budi juga mengatakan, berdasarkan rasio jenis kelamin, pengunjung VCT masih berimbang antara laki-laki dan perempuan. Pihaknya pun mengaku, begitu menjaring seseorang yang positif atau reaktif terhadap HIV/AIDS, akan dilakukan tes serupa bagi satu keluarga itu.

Penjaringan dengan satu keluarga sekaligus itu dapat mengendalikan mereka yang negatif tidak ikut-ikutan diserang HIV/AIDS. Apalagi mayoritas pengunjung VCT saat ini, kebanyakan berasal dari rujukan atau dari wilayah yang rentan terhadap penyakit tersebut.

Budi mengungkapkan, biasanya rujukan dilakukan oleh puskesmas, apabila mengetahui keluarga dari seorang pengidap HIV reaktif. Untuk yang secara sadar berkunjung ke klinik VCT, sejauh ini masih minim jumlahnya.

Untuk diketahui, sampai akhir 2012, Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang mencatat sebanyak 120 pengidap HIV/AIDS. Budi menegaskan, datang ke klinik VCT sebenarnya bisa membantu memecahkan permasalahan HIV/AIDS.

Sebab, di klinik tersebut, pasien akan menjalani perawatan, dukungan moral bahkan arahan pengobatan penderita. Kerahasiaan klien tetap dijaga, sehingga tidak melanggar hak asasi manusia dan tidak ada potensi diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan