Kelapa Bercabang Delapan

Rabu, 13 Juni 2012 | 03:58 WIB

JATIROGO- Pada umunya pohon kelapa tidak memiliki cabang. Namun pernahkan anda berpikir bahwa ada diantara pohon kelapa yang memiliki cabang, bahkan lebih dari satu. Jika ada, salah satu pohon tersebut terdapat di komplek Pondok Pesantren Nahdhatut Tholibin al-Islamiyyin, Desa Kebonharjo Kecamatan Jatirogo Kabupaten Tuban.
Saat wartawan koran ini datang untuk melihatnya, Rabu (13/6), pohon yang sudah ditanam sejak tahun 1990 lalu itu bediri kokoh dan empat cabang diantaranya berbuah dengan warna kemerahan, layaknya kelapa pada umumnya. Tidak ada keanehan lain selain cabangnya yang berjumlah delapan.
KH. Alam Farid, salah seorang pengasuh pondok tersebut mengatakan, pohon kelapa yang bercabang delapan itu ditanam oleh seorang santri pada sekitar tahun 1990. Saat itu, jelas dia, tidak ada pikiran jika pada suatu saat nanti kelapa yang ditanam akan memiliki cabang.
“Kalau tidak salah ditanam pada tahun 1990, dan saat itu kita tidak pernah menyangka pohonnya akan memiliki cabang. Saya lupa siapa yang menanam, tapi yang jelas salah seorang santri kami,” jelasnya kepada wartawan.
Kyai Farid mengaku tidak mengetahui pasti penyebab kelapa yang ditanam di pondoknya itu memiliki cabang. Dirinya mengaku tidak memberikan pupuk apapun kepada pohon tersebut dan hanya dibiarkan tumbuh dengan sendirinya. Yang jelas, tambah dia, bercabangnya pohon kelapa tersebut melalui proses.
“Tidak seketika bercabang sebanyak ini, tahun pertama cabang satu dan rata-rata setiap tahun tumbuh cabangnya hingga sekarang menjadi delapan. Terakhir keluar cabangnya seingat saya tahun 2010 silam,” ujarnya.
Ia menceritakan, sesungguhnya secara keseluruhan terdapat 4 kelapa bercabang di komplek pesantren miliknya. Namun, lanjut dia, saat ini hanya tersisa dua pohon karena yang lainnya mati dan ada satu pohon yang dibawa oleh seseorang ke Jakarta.
“Sebenarnya dulu ada 4 pohon. Namun saat ini tinggal 2, yang satu mati dan yang satunya lagi dibawa orang ke Jakarta, katanya sih mau ditanam di komplek Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Selama ini ya buahnya biasa diambil santri untuk masak atau sekedar mencicipi air kelapanya,” terangnya.
Berkaitan dengan keberadaan pohon kelapa aneh tersebut, kyai Farid menuturkan banyak orang datang dari jauh yang ingin meminta buahnya atau sekedar melihatnya. Dirinya tidak mempersoalkan hal itu selagi tidak ada niat buruk yang berkaitan dengan menyekutukan Allah.
“Segala yang tercipta di bumi atas kekuasaan Allah. Jadi jika ada hal-hal yang oleh orang dirasa aneh itu ya karena Allah, bukan hal itu sendiri,” katanya lagi. (Ilyas)
Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan