Sering Ganti Kayu, Warga Karaskepoh Minta Jembatan Baru

Selasa, 17 Desember 2013 | 16:24 WIB
Kondisi papan kayu jembatan gantung Desa Karaskepoh Kecamatan Pancur sangat memprihatinkan.

Kondisi papan kayu jembatan gantung Desa Karaskepoh Kecamatan Pancur sangat memprihatinkan.

PANCUR, MataAirRadio.net – Warga Desa Karaskepoh Kecamatan Pancur mendesak Pemerintah Kabupaten Rembang untuk menyegerakan pembangunan jembatan permanen penghubung desa itu dengan Desa Tuyuhan dan pusat kota kecamatan. Saat ini, kondisi papan kayu jembatan gantung itu sudah mendesak untuk kembali diremajakan karena sebagian lapuk dan rawan patah.

Penggantian papan kayu jembatan sebenarnya dilakukan pada hampir setiap tahun oleh pemerintah desa setempat. Menurut Kepala Desa Karaskepoh Sri Siti Murniati, anggaran untuk penggantian papan kayu jembatan bisa mencapai Rp2,5 juta per tahun. Kemampuan keuangan desa terbatas sehingga penggantian itu merepotkan.

Selasa (17/12) pagi, dia membeli kayu untuk keperluan penggantian mengingat kerawanan di musim hujan. Warga berharap kepada Pemkab agar membangun jembatan baru di sebelah selatan jembatan gantung. Menurut sebagian warga, jembatan gantung perlu dipertahankan karena bernilai unik dan klasik. Jembatan itu diharapkan menjadi salah satu objek penopang Karaskepoh sebagai desa wisata.

Anggota Komisi C DPRD Kabupaten Rembang Puji Santoso mengaku sudah menerima keluhan dari warga mengenai Jembatan Karaskepoh. Puji yang merupakan anggota dewan asal Desa Tuyuhan Kecamatan Pancur ini juga mengaku telah mendengar aspirasi warga yang menginginkan adanya pembangunan jembatan baru secara permanen.

Menurutnya, jembatan gantung perlu dipertahankan sebagai pelengkap desa wisata Karaskepoh. Apalagi dia kerap kali memergoki penggunaan jembatan gantung itu untuk acara foto menjelang pernikahan. Pihaknya pun sudah mengusulkan pembangunan jembatan baru di sebelah selatan jembatan gantung. Namun belum ada kabar kapan direalisasikan.

Saat ini, intensitas pesepeda motor yang melintas di atas jembatan sepanjang sekitar 30 meter itu memang semakin padat. Tidak ada jembatan lain untuk alternatif, kecuali mau memutar lewat Jalur Rembang-Pamotan. Puji mengungkapkan, Bappeda Rembang berencana membangun secara maksimal Karaskepoh sebagai salah satu desa wisata.

Kepala Bidang Bina Marga pada Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Rembang, Raharjo ketika dikonfirmasi mengakui ketiadaan dana menjadi kendala utama. Pihaknya pernah mengusulkan melalui dana pascabencana dari Pemerintah Pusat, namun gagal. Menurutnya, butuh anggaran hingga Rp2,5 miliar karena jembatan baru nanti akan dibeton. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan