Kapolres Rembang Sidak Rutan, Petugas Keamanan Kurang

Rabu, 17 Juli 2013 | 16:34 WIB
Kapolres Rembang Ajun Komisaris Besar Polisi Adhy Fandy Ariyanto memimpin secara langsung sidak itu didampingi jajaran petinggi polres serta Kepala Rutan Rembang Edy Cahyono.

Kapolres Rembang Ajun Komisaris Besar Polisi Adhy Fandy Ariyanto memimpin secara langsung sidak itu didampingi jajaran petinggi polres serta Kepala Rutan Rembang Edy Cahyono.

REMBANG, MataAirRadio.net – Kericuhan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Tanjung Gusta Medan berusaha diantisipasi Polres Rembang. Tak ingin kejadian serupa terjadi di Rembang, jajaran kepolisian resor setempat pun melakukan sidak atau inspeksi mendadak ke Rumah Tahanan Kelas IIB Rembang, Rabu (17/7) siang.

Tiba sekitar pukul 13.00 WIB, Kapolres Rembang Ajun Komisaris Besar Polisi Adhy Fandy Ariyanto memimpin secara langsung sidak itu didampingi jajaran petinggi polres serta Kepala Rutan Rembang Edy Cahyono.

Kapolres datang dan kemudian meninjau kondisi sel-sel tahanan di rutan tersebut. Seusai melakukan sidak, Adhy menjelaskan, sidak itu terkait peningkatan keamanan dan kewaspadaan.

Diketahui bahwa kapasitas ruangan tidak mengalami “overload”. Namun dari sisi petugas keamanan rutan, terjadi kekurangan sehingga pihaknya akan menjalin kerjasama dengan pihak rutan untuk meningkatkan pengamanan.

Sementara itu, Kepala Rutan Kelas IIB Rembang Edy Cahyono mengatakan, kapasitas rutan setempat mencapai 229 orang. Saat ini dihuni oleh 129 narapidana dan tahanan, kebanyakan dari kasus pencurian.

Edy mengakui, dari sisi petugas keamanan memang kurang. Dari tiga blok yang ada masing-masing hanya dijaga empat orang. Padahal, idealnya per blok mencapai enam orang.

Disebutkannya, setiap pengunjung rutan melewati tiga pos pengawasan, mulai dari pintu depan, bagian tengah, hingga masuk ke ruang kunjungan. Hampir setiap hari ada bantuan satu orang petugas dari kepolisian yang bertugas di bagian depan Rutan Kelas IIB Rembang.

Sebagaimana diberitakan, kerusuhan terjadi Lembaga Pemasyarakatan (LP) Tanjung Gusta, Medan, Sumatera Utara, Kamis 11 Juli lalu. Kerusuhan di LP Tanjunng Gusta itu terjadi karena sejumlah sebab, di antaranya matinya pasokan air dan listrik, serta tuntutan penghapusan pengetatan remisi.

Napi yang mengamuk kemudian melakukan pembakaran. Sebanyak 212 narapidana, sembilan di antaranya terpidana kasus teroris, kabur saat kerusuhan itu. Dari jumlah tersebut, sebanyak 97 narapidana sudah ditangkap kembali. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan