Kambing Pemakan Sampah untuk Kurban Dipantau

Minggu, 6 Oktober 2013 | 15:57 WIB
Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di kawasan Landoh Kecamatan Sulang. (Foto:Puji)

Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di kawasan Landoh Kecamatan Sulang. (Foto:Puji)

SULANG, MataAirRadio.net – Sejumlah pemulung yang merangkap menjadi peternak di tempat pembuangan akhir sampah di Desa Landoh Kecamatan Sulang, tetap menjual kambing mereka untuk keperluan kurban. Padahal, ternak ini mengonsumsi beragam jenis sampah.

Ngatri dan Sulasah, dua dari belasan peternak sekaligus pemulung mengaku sudah 10 tahun ini menggembalakan kambing di TPAS Landoh. Menurut mereka, meski digembalakan di tempat pembuangan sampah, kambing tetap tumbuh sehat, gemuk, dan diklaim tidak penyakitan.

Memang pernah ada ternak mereka yang mati akibat menelan sampah kimia. Namun kejadian seperti itu, sangat jarang dan mereka hanya menganggapnya sebagai garis nasib.

Minggu (6/10) pagi atau delapan hari menjelang Idul Adha ini, mereka pun menjual sebagian ternaknya sebagai hewan kurban bila ada yang berminat. Kambing jawa milik peternak ini dijual mulai harga dua juta rupiah.

Agus Iwan Haswanto Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang mengaku tidak memantau ketat peternakan rakyat pada menjelang perayaan kurban tahun ini.

Pihaknya sebatas melakukan monitoring dan pemantauan secara berkala di pasar-pasar hewan. Menurut Iwan, peredaran hewan kurban seperti kambing dan sapi di Kabupaten Rembang, masih relatif aman dari penyakit ternak seperti antraks dan sejenisnya.

Iwan pun mengaku belum berencana untuk turun tangan mengecek tingkat kesehatan dari kambing peternak yang digembalakan di tempat pembuangan sampah. Hanya, pihaknya akan memantau.

Belum hilang dari ingatan, kalangan medis dan Majelis Ulama Indonesia pernah mengimbau agar masyarakat berhati-hati dalam membeli hewan kurban. Ternak yang sehari-hari digembalakan di tempat pembuangan sampah menjadi salah satu yang perlu diwaspadai.

Pasalnya, tidak ada jaminan bahwa yang dikonsumsi ternak tersebut hanya dedaunan, tetapi rawan pula mengonsumsi sampah kimia yang bisa membahayakan kesehatan manusia. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan