Kades Sumber Malah Minta Dikasihani

Senin, 20 Februari 2012 | 08:06 WIB


SUMBER – Kepala Desa Sumber, Kecamatan Sumber, Sucipto malah meminta warga setempat mengasihaninya menyusul gelombang tuntutan ganti rugi atas tanaman padi dan jati milik petani yang digulung paksa akibat pembukaan jalan usaha tani sepanjang 2,9 kilometer di desa itu.

“Tolong warga mengasihani kami. Desa tidak akan mungkin bisa mengabulkan tuntutan ganti rugi yang dituntut petani. Jika harus mengusahakan (ganti rugi) kepada pihak lain, kami harus mengadu ke siapa?,” kata Sucipto, menanggapi alasan penghentian sementara operasional alat berat jenis “backhoe” untuk pembuatan jalan usaha tani diduga akibat tuntutan warga untuk mengganti rugi tanaman yang rusak.

Pembuatan jalan usaha tani dan industri sepanjang 2,9 kilometer yang diklaim bisa mempermudah akses para petani di dua dusun, Dusun Jatigenuk dan Bulaksempu, dihentikan sementara sejak Minggu (19/2). Sampai dengan Senin (20/2), “backhoe” untuk membuka jalan masih belum beroperasi.

Meski sejak awal warga tidak berkeberatan jika tanahnya dipakai sebagian untuk membuka jalan tersebut, namun mereka meminta ganti rugi atas tanaman padi dan jati yang digulung paksa, sebelum pembuatan jalan kembali dilanjutkan.

Seperti diberitakan sebelumnya, sejumlah petani di Dusun Jatigenuk Desa Sumber, Kecamatan Sumber, menyoal pembuatan jalan usaha tani dan industri, penghubung dusun itu dengan desa setempat, lantaran dibuat sebelum mereka memanen tanaman padinya.

Padahal dalam musyawarah desa yang belum lama ini digelar, dicapai permufakatan bahwa pembuatan poros jalan tersebut akan dilakukan setelah masa panen. Namun, kini, pada saat sebagian tanaman padi petani masih dalam masa berbulir (masak susu, red.), pembuatan jalan sudah dilakukan.

Sucipto juga mengklaim, saat ini sudah tidak ada masalah lagi dengan pembuatan jalan itu, sehingga pihaknya berencana memerintahkan operator “backhoe” untuk kembali beroperasi.

“Dari 102 warga yang memiliki tanaman atau tanah di sepanjang bakal jalan tersebut, seratus di antaranya sudah menyatakan setuju pembuatan jalan dilanjutkan. Selasa (21/2), ‘backhoe’ beroperasi lagi,” kata dia.

Mengenai pengoperasian alat berat jenis “backhoe” untuk pembuatan jalan yang dilakukan sebelum masa panen atau melanggar kesepakatan musyawarah yang digelar pada 4 Februari 2012, Sucipto hanya meminta maaf dan berdalih bahwa hal itu dilakukan karena untuk mendapatkan bantuan alat berat secara gratis, cukup sulit.

“Kebetulan, saat itu ada kegiatan karya bhakti TNI, sehingga ‘backhoe’ Pemkab Rembang bisa didatangkan. Kalau harus menunggu hingga selesai panen, kami khawatir rencana pembangunan jalan molor lagi karena sulit mendapatkan alat berat,” kata dia.

Sucipto juga membantah adanya anggapan warga bahwa pemerintah desa menyalahi kesepakatan mengenai lebar jalan; sesuai kesepakatan, lebar jalan hanya tiga meter tetapi kenyataannya lima meter.

“Soal lebar jalan, kami bisa jelaskan tidak seperti itu. Tambahan lebar dua meter itu hanya untuk memudahkan “backhoe” mengeruk tanah. Setelah proyek selesai, tetap menjadi hak pemilik tanah masing-masing,” kata dia.

Ia juga mengungkapkan, pembangunan jalan itu berawal dari janji Wakil Bupati Rembang, Abdul Hafidz yang menyatakan akan membantu pengerasan jalan meski dengan makadam, tahun ini.

“Kami pun menganggap ini sebagai kesempatan bagus untuk membuka jalan baru, karena potensial mengangkat ekonomi. Bagaimana mungkin ada bantuan pengerasan jalan, kalau jalannya saja belum ada. Maka dari itu, jalan kami buat sesegera mungkin,” kata dia. (Puji)




One comment
  1. sukron

    Februari 20, 2012 at 11:27 am

    apa bener kalo pembuatan jalan poros sumber jati genuk ini terkait dengan orang-orang pemilik modal kuat memborong tanah di situ? sehingga dapat proyek pengerasan dengan mudah dari pemkab

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan