Jati Muda, Sasaran Pencurian Kayu Hutan

Kamis, 22 Maret 2012 | 08:05 WIB


GUNEM – Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Mantingan mengemukakan jati muda merupakan sasaran utama pencurian kayu di hutan belakangan ini.

Menurut Ajun Administratur KPH Mantingan, Moch Risqon, Kamis (22/3), pencurian kayu jati berusia muda tersebut diduga dilatari oleh semakin berkurangnya jumlah jati berusia di wilayah hutan kesatuannya.

“Aksi para pencuri tersebut jelas menghambat program reboisasi di lahan kritis yang sedang kami galakkan,” keluh dia.

Karena itu, pihaknya bertekad berlaku tegas kepada setiap aksi perambahan hutan. “Kami tingkatkan kerja sama dengan aparat kepolisian untuk menekan tingkat pencurian kayu hutan,” kata dia.

Pihaknya juga tidak sekadar mengandalkan tugas seorang polisi hutan. “Sesekal, kami pun libatkan staf kantor untuk membantu pengamanan di hutan,” kata dia menambahkan.

Belum lama ini, seorang petugas menangkap basah Jamari (24), warga RT 8 RW 2 Desa Timbrangan, Kecamatan Gunem. Ia dipergoki sedang menebang kayu di hutan wilayah RPH Timbrangan BKPH Kebon, turut tanah Desa Pasucen, Kecamatan Gunem.
Tersangka diserahkan kepada Polres Rembang pada Rabu (21/3), untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Kaur Bin Ops (KBO) Satuan Reserse Dan Kriminal Polres Rembang, Iptu Haryo Seto mengatakan, pihaknya memfokuskan pemeriksaan, karena ada dugaan Jamari sudah berulang kali mencuri kayu.

Polisi mengamankan barang bukti berupa 5 batang kayu jati masing-masing sepanjang 1 meter, 1 buah perkul, dan 1 unit sepeda motor K 6907 GD yang akan digunakan untuk mengangkut kayu curian, dari tersangka.

“Kami sedang dalami kemungkinan Jamari berada dalam satu jaringan. Hanya, dari serangkaian pencurian kayu yang terjadi di kabupaten ini, sekitar 90 persen terjadi karena desakan ekonomi,” kata dia. (Puji)




One comment
  1. sora

    Maret 22, 2012 at 10:31 am

    Aksi yang lebih mengerikan dan lebih bejat lagi yang penjualan petak perhutani untuk alokasi semen gresik pak. katanya ada 400hektar pak. rakyat mau mencukupi kebutuhannya dengan apa kalo selama ini mereka menggantungkan hidupnya di lahan itu? bukankah pihak perhutani yang lebih tidak berprikemanusiaan dan merusak lingkungan hijau? karena telah menyetujui ekploitasi dilahan perhutani yang notabene menjadi lahan hidup rakyat disana?

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan