HIV Mulai Serang Kalangan Muda dan Profesional di Rembang

Minggu, 29 Desember 2013 | 18:49 WIB

 

Salah satu spanduk sosialisasi HIV AIDS di depan Stadion Krida Rembang, Minggu (29 12)

Salah satu spanduk sosialisasi HIV AIDS di depan Stadion Krida Rembang, Minggu (29 12)

REMBANG, MataAirRadio.net – Persebaran pengidap HIV/AIDS di Kabupaten Rembang cenderung meluas. Meski pengidap dari kalangan ibu rumah tangga masih paling tinggi, persebaran HIV/AIDS kini merambah ke kalangan muda dan profesional.

Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Rumah Matahari Pati mengungkap informasi adanya tiga pendaftar calon tamtama yang gagal gara-gara positif HIV/AIDS. Koordinator KDS Rumah Matahari Pati Ari Subekti juga mengungkap adanya profesional di bank kredit kecamatan atau BKK di Rembang, yang positif diserang virus imunodifisiensi.

Menurut Ari yang mengomandani pendampingan terhadap penderita HIV/AIDS di wilayah Karesidenan Pati, kondisi mereka masih tampak sehat dan bisa beraktivitas normal seperti biasa. Sebab virus tersebut belum akan pernah mati selagi mereka hidup, namun mereka bisa tampak sehat, asalkan rutin mengonsumsi obat.

Sementara itu, obat bagi penderita HIV/AIDS di Rembang masih terbatas diperoleh di Pati. Rumah sakit daerah setempat belum menjadi satelit penyedia obat bagi ODHA atau orang yang hidup dengan HIV/AIDS. Padahal jika Pemkab Rembang serius, rumah sakit satelit bisa diperjuangkan dengan persetujuan dari Pemprov Jawa Tengah.

Menurut Ari, dampak dari kenda akses obat, ada sejumlah penderita yang tidak segera tertangani sehingga meninggal. Data Rumah Matahari menyebutkan adanya 82 pengidap HIV di Rembang yang telah meninggal dunia. Jumlah itu lebih dari separuh dari jumlah penderita yang terdeteksi yakni 151 orang.

Ari juga menyebutkan, mereka yang kini masih hidup hanya 40 orang di antaranya yang dalam pendampingan Rumah Matahari. Mereka dibantu akses obat dan kesehatan dari pihak yang terkait.

KDS Rumah Matahari Pati menganggap sosialisasi yang dilakukan pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang masih kurang menyasar pada target yang tepat. Mestinya tidak fokus pada puskesmas, tetapi melalui bidan desa, terutama di daerah rawan penularan HIV/AIDS, seperti daerah tambang dan dekat dengan pangkalan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang Ali Syofii mengklaim sudah berusaha maksimal menekan penyebaran HIV/AIDS dengan sosialisasi dan menempatkan klinik VCT di RSUD dr R Soetrasno Rembang. Namun sebagian pengidap HIV/AIDS yang memilih tertutup, disebut Ali menjadi kendala untuk melokalisasi penyebarannya. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan