Harga Anjlok, Petani Jagung Dihantui Rugi

Sabtu, 7 Juli 2012 | 10:06 WIB
Ilustrasi: Tanaman jagung siap panen. Harga yang anjlok membuat petani lesu darah

KOTA – Petani jagung di Kabupaten Rembang dihantui bayang-bayang kerugian. Pasalnya saat  ini, harga jual jagung mengalami penurunan.

Salah seorang petani asal Gunem, Subedi (30), mengungkapkan, pada panen sebelumnya harga jual jagung mencapai Rp2.800/kg. Tapi saat ini harga jual hanya Rp2.050/kg.

Oleh karena itu, beberapa petani jagung yang telah panen seperti dirinya memilih untuk menyimpan terlebih dahulu hasil panenannya.

 “Sebenarnya hasil panennya bagus. Tapi ketika panen, harga jualnya hanya Rp 2.050/kg,” katanya, Sabtu (7/7).

Jika nekat menjual hasil panen, kata Bedi, sudah dipastikan dirinya akan merugi.  Pasalnya, biaya produksi mencakup biaya pengolahan lahan, penyediaan bibit, upah tenaga kerja, pemupukan dan biaya perawatan tidak sedikit.

“Ya bisa dikatakan habis-habisan kalau saya tetap menjual jagung sekarang dengan harga Rp 2.050/kg,” ujarnya.

Petani lainnya, Parmin (45), juga memilih untuk menyimpan terlebih dahulu hasil panen jagungnya.

“Kemarin saya sempat menjual 1 kwintal jagung untuk kebutuhan rumah tangga. Jagung saya hanya dihargai Rp1.900/kg. Jadi sementara sisanya saya simpan dulu di rumah,” terangnya.

Melihat harga pasar yang sangat rendah, petani jagung berharap ada upaya dari pemerintah, khususnya Dinas Pertanian Kabupaten Rembang untuk membantu para petani.

Harapannya, jika harga jagung cukup tinggi, para petani tidak merugi bahkan bisa untung agar kesejahteraannya meningkat dan bisa kembali menanam jagung.

“Minimal harga jual jagung Rp2.500/kg agar petani tidak merugi. Jadi kami berharap ada upaya dari pemerintah,” ujarnya.

Saat ini populasi jagung di Kabupaten Rembang mengalami penurunan yang signifikan lantaran sebagian lahan yang biasa ditanami jagung beralih ditanami tembakau. Jika harga terus melemah, bukan tidak mungkin akan berpengaruh pada kurang maksimalnya perlakuan tanaman jagung oleh petani lainnya yang saat ini belum panen. (Tarom)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan