Warga Menolak Pemindahan Gentong Kuno Bonang ke Plawangan

Sabtu, 9 November 2013 | 10:19 WIB
Gentong Lasem (Foto:aliansijournalisrembang)

Gentong Lasem (Foto:aliansijournalisrembang)

LASEM, MataAirRadio.net – Warga Desa Bonang Kecamatan Lasem menolak rencana pemindahan situs gentong kuno ke Museum Arkeologi di Plawangan Kecamatan Kragan. Apalagi, 2 November kemarin, warga kembali menemukan pecahan keramik kuno di dekat kawasan Masjid Sunang Bonang.

Rencana pemindahan situs gentong kuno itu sempat diungkapkan pihak Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Rembang dan Balar Yogyakarta, saat menilik situs tersebut selepas perayaan Idul Adha, 15 Oktober lalu.

Syaiful Sodikin, Kepala Desa Bonang mengatakan, jumlah temuan barang kuno di wilayah desanya masih mungkin bertambah. Pihaknya berharap, Pemkab Rembang memberikan bantuan lebih, misalnya dengan berusaha melindunginya di Bonang sendiri.

Lantaran warga menolak pemindahan situs kuno tersebut, Sabtu (9/11) pagi, Pemerintah Desa Bonang mengamankan situs gentong kuno ke Balai Desa setempat, untuk sementara waktu.

Kepala Desa Bonang mengungkapkan, khusus untuk temuan pecahan keramik kuno di kawasan Masjid Sunan Bonang, pihaknya menyimpan benda tersebut di rumah salah seorang tokoh warga.

Warga dan Pemerintah Desa Bonang tidak mau dibilang membangkang, meski telah menolak rencana pemindahan situs-situs kuno itu ke Museum Plawangan. Bagi warga, temuan-temuan tersebut memiliki nilai berharga sekaligus sebagai aset desa.

Pemerintah desa sebenarnya berharap untuk dibuatkan semacam museum mini bagi temuan-temuan tersebut. Namun baru sempat dilontarkan, ide itu keburu ditolak Pemkab Rembang karena ketiadaan dana. Selain situs gentong dan keramik, pada 2011 lalu ditemukan pula situs sumur kuno.

Seperti diketahui, Fathan (70) seorang warga setempat menemukan gentong dan pecahan gerabah kuno di sebelah barat Desa Bonang, ketika menggali tanah untuk mengumbuk jalan.

Kepala Dinbudparpora Kabupaten Rembang Sunarto menjelaskan, rencana pemindahan situs gentong kuno ke Museum Arkeologi Plawangan hanya untuk melindunginya dari kerusakan. Menurut dia, museum lebih aman daripada balai desa. Meski demikian, dia tidak bisa berbuat banyak, apabila pemerintah desa bersikukuh mempertahankannya. (Nugroho Ghozali/ Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan