Ganjar: Alokasi Anggaran Pendidikan Tak Maksimal

Senin, 6 Mei 2013 | 19:14 WIB
Calon Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan perkembangan dunia pendidikan memerlukan perhatian serius. (foto:AFTA)

Calon Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan perkembangan dunia pendidikan memerlukan perhatian serius. (foto:AFTA)

REMBANG, MataAirRadio.net – Calon Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyatakan perkembangan dunia pendidikan memerlukan perhatian serius. Mantan Wakil Ketua Komisi II DPR RI itu menuding, karut marut dunia pendidikan di Tanah Air, antara lain disebabkan oleh alokasi 20 persen dari APBN yang tidak sesuai kenyataan.

Demikian kata Ganjar saat menghadiri acara Silaturahmi dan Dialog Kyai Santri bertajuk “Aspirasi Pesantren dalam Pembangunan Pendidikan” di Gedung Haji Rembang, Senin (6/5) sore.

Ganjar mengatakan, alokasi penggunaan anggaran pendidikan yang saat ini masuk ke Kementrian Pendidikan hanya mencapai sekitar Rp70 triliun. Padahal dari total APBN yang mencapai Rp1.600 triliun, maka mestinya alokasi dana pendidikan berkisar Rp320 triliun.

Jika direalisasikan seutuhnya, maka menurutnya, tidak akan memunculkan persoalan seperti telatnya penyaluran dana BOS maupun ketersendatan pada proses sertifikasi bagi para guru honorer.

Ganjar juga mengatakan untuk memajukan pendidikan di daerah perlu ada terlebih dahulu kejelasan, apakah pendidikan menggunakan sistem desentralisasi atau sentralisasi. Sebab menurutnya yang saat ini terjadi adalah kewenangan diberikan, namun anggaran tidak.

Sementara itu, acara yang digelar PC IPNU-IPPNU Rembang ini dihadiri sekitar seribuan peserta dari berbagai kalangan mulai dari para kyai, santri, pelajar, dan masyarakat dari berbagai daerah di Kabupaten Rembang. (Afta Ahmad)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan