Diskriminasi ODHA di Rembang Hingga di Akhir Hayat

Senin, 30 Desember 2013 | 16:54 WIB
Ilustrasi (Foto:propagandroid.deviantart.com/art/AIDS-square)

Ilustrasi (Foto:propagandroid.deviantart.com/art/AIDS-square)

REMBANG, MataAirRadio.net – Diskriminasi atau pembedaan perlakuan terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS atau ODHA masih terjadi di Kabupaten Rembang. Diskriminasi itu bahkan terjadi hingga di akhir hayat penderita. Temuan demikian diungkap oleh Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Rumah Matahari wilayah Karesidenan Pati.

Pihak Rumah Matahari menemukan diskriminasi terhadap ODHA, meski penderitanya telah meninggal dunia. Koordinator KDS Rumah Matahari Ari Subekti membeberkan, diskriminasi terjadi pada salah satu penderita di Kecamatan Sale.

Penderita HIV/AIDS ini meninggal, namun perlakuan ketika memandikan jenazah tidak manusiawi. Hanya dikocori. Dan saat mengangkat jenazah pun hingga dilapis oleh terpal. Padahal, ketika penderita HIV/AIDS meninggal, maka secara klinis virusnya juga ikut mati dan tidak akan menular ke orang lain. Akibat ketakutan ini, ODHA pun merasa semakin terkucilkan.

insert

Menurut KDS Rumah Matahari, masih adanya diskriminasi terhadap ODHA kendati sudah meninggal dunia, membuktikan masyarakat masih tidak paham tentang HIV/AIDS. Ini juga sekaligus menjadi bukti, sosialisasi yang diklaim oleh Pemerintah sudah gencar, masih belum sepenuhnya diterima masyarakat.

Koordinator organisasi yang fokus pada pendampingan penderita HIV/AIDS ini menambahkan, sosialisasi perlu dilakukan secara tepat target. Ari lantas menganggap, maraknya tempat hiburan terutama yang menjadi ajang mesum, rentan penularan HIV.

Belum lagi, dari data terbarunya terungkap, sebaran terbanyak penderita HIV berada di wilayah dekat dengan kawasan tambang. Dipicu oleh mobilitas sopir armada pengangkut material tambang yang cukup tinggi.

insert

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang Ali Syofii mengaku akan lebih menggencarkan sosialisasi HIV/AIDS. Menurutnya, HIV menular melalui hubungan seks, transfusi darah, melalui air susu ibu yang diminum anaknya, serta penggunaan jarum suntik bersama, terutama pada pengguna narkoba.

Ali menegaskan, kontak fisik biasa, bersentuhan atau berbicara, tidak akan menularkan HIV. Hingga akhir tahun 2013, ada 151 kasus HIV/AIDS. Tersebar di seluruh kecamatan, dan 82 orang di antaranya sudah meninggal dunia. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan