Delapan Rumah Warga Dibongkar, Sumur Selamat

Kamis, 15 November 2012 | 13:29 WIB

Ilustrasi : Rumah di bongkar

Rembang – MataAirRadio.net  Delapan keluarga yang tinggal di bantaran Sungai Karanggeneng Rembang, masuk wilayah Kelurahan Tanjungsari Kecamatan Kota Rembang, terpaksa membongkar sebagian bangunan rumah milik mereka seiring rencana pembuatan tebing sungai, breakwater, dan jetty di sisi barat sungai itu.

Dari keterangan warga yang dihimpun reporter MataAir Radio, sebagian warga sempat kecewa dengan adanya pembongkaran bangunan itu, meski akhirnya mereka mengakui kalau telah melanggar aturan dengan mendirikan bangunan di sempadan sungai.

Sutami, seorang warga setempat mengaku dirinya menolak pembongkaran sumur miliknya. Namun, kemudian pelaksana proyek melunak dan mempersilakan Sutami membuat tutup beton atas sumur miliknya.

Dengarkan rekaman disini.

Namun, bangunan lain yang terpaksa dibongkar adalah milik Abu Kosim, Marwan, Kasminah, Mustain, Nafsiah, dan Ahmad. Keenam keluarga ini bahkan diberi tali asih, antara Rp500.000-Rp1.750.000, dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Rembang.

Sementara, pembongkaran sebagian kecil bangunan milik keluarga Hamdan dan Zaidi, tidak mendapatkan santunan serupa tanpa alasan jelas.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rembang, Suharso menjelaskan, pihaknya terpaksa membongkar sebagian bangunan milik warga karena berdiri di tanah lambiran sungai yang sesuai aturan memang tidak boleh dihuni bangunan.

Ia pun menjelaskan, penggusuran tersebut demi pembangunan tebing sungai, breakwater, dan jetty. Menurut Suharso, hasil pengerukan akan ditaruh di bagian barat sebagai tanah terbuka agar sejajar dengan bangunan di sisi barat.

Dengarkan rekaman disini.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Rembang menormalisasi muara Sungai Karanggeneng menyusul sedimentasi parah yang mengganggu lalu lintas perahu dan kapal nelayan.

Normalisasi yang dilakukan satu paket dengan pembuatan jetty, breakwater, dan tebing sungai itu, juga dimaksudkan agar aliran air sungai itu menjadi lancar. Sebab, katanya, selama ini sedimentasi parah mengakibatkan sungai mudah banjir. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan