Dalang Sigid Tak Letih Berkreasi

Jumat, 13 Januari 2012 | 16:31 WIB

Namanya sangat populer di jagad pakeliran wayang kulit. Bukan hanya di Kabupaten Rembang, namun juga seantero negeri ini.

Kepiawaiannya memainkan wayang kulit, membuat dalang muda kelahiran Blora 8 Juni 1979 ini menjadi salah satu dalang kondang yang digandrungi oleh para pecinta kesenian tradisional wayang kulit di republik ini.

Ia adalah Sigid Ariyanto, dalang berbakat yang namanya terus berkilau seiring popularitasnya yang kian meroket.

Meski sudah terkenal, seniman sejuta bakat tamatan pendidikan seni pedalangan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, tahun 2003 ini, tak silau dengan popularitas yang diraihnya. Dalam kesehariannya, ia cukup bersahaja.

Kepada siapa pun, ia menaruh hormat. Wajar saja jika ia sangat akrab dengan masyarakat sekitar. Tak ada gelamor layaknya penampilan artis ibukota yang kerap dipertontonkan di media.

“Biasa saja. Saya kan bukan artis, ha ha ha. Hargailah orang lain, maka kita kan dihargai orang lain,” kilahnya merendah.

Dalang Sigid, sapaan akrab Sigid Ariyanto, mengaku belum puas dengan apa yang telah diraihnya. Ia mempunyai obsesi besar untuk menjaga kelestarian seni tradisional wayang kulit.

“Selama ini pemahaman yang berkembang, wayang kulit selalu identik dengan para orang tua dan kalangan sepuh. Kami ingin bagaimana kedepannya seni wayang kulit menjadi satu kesenian yang juga digemari oleh generasi muda,” ucapnya.

Terlecut keinginan tersebut, pemimpin sanggar seni Cakraningrat ini tak mengaku lelah berkreasi. Pernah suatu kesempatan, ia bersama sanggar seni yang dikelolanya mementaskan wayang kulit multi media yang diberi label wayang puisi pada acara Kethek Ogleng Baca Puisi jilid II di eks stasiun Rembang.

“Butuh improvisasi baik konsep maupun kemasannya agar wayang kulit juga digemari generasi muda. Dalam setiap cerita, banyak tuntunan yang bisa diambil hikmahnya oleh generasi muda. Karenanya, eman jika wayang kulit hanya dinikmati oleh kaum tua,” terangnya.

Sudah tak terhitung lagi berapa lakon yang telah ia pentaskan. Yang jelas, segudang prestasi pernah ia torehkan sepanjang karirnya di dunia pedalangan.

Diantaranya; Penyusun naskah dan dalang dalam pakeliran layar panjang lakon “Parikesit” di Teater Lingkar Semarang (2002), Pakeliran Padat “Hastabrata Kawedhar” Dies Natalies UNES Semarang (2005), Wayang Bahasa Indonesia(Sandosa) “Karna Tandhing” di Belanda dan Italia (2003), juara II Festival Dalang Tingkat Jateng (2004), Duta Indonesia dalam Festival Wayang ASEAN lakon “Ciptoning” (2006), Pagelaran Wayang Reformasi Birokrasi di MENPAN Jakarta lakon “Prabu Baka” (2007) dan penyaji terbaik dan sanggit lakon terbaik dalam Festival Wayang Indonesia 2008 di Yogyakarta.

Namanya yang moncer, menjadikan ia sebagai salah satu seniman terbaik yang dimiliki kabupaten ini. Namanya  terus berkibar sejajar dengan dalang-dalang kondang negeri ini macam Ki Mantep Sudarsono, Ki Enthus Susmono, dan nama beken lainnya.

“Yang terpenting, jangan pernah merasa puas dahulu. Teruslah berkarya, karena itu yang akan membuat kita terus hidup,” pungkasnya. (Muhtarom)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan