Paguyuban Kades: BLSM Tidak Mendidik

Minggu, 19 Mei 2013 | 19:13 WIB
Ketua Satu Guru Pendawa Kabupaten Rembang, Isa Ansori

Wakil Ketua Paguyuban Kepala Desa se-Kabupaten Rembang, Isa Ansori. (Foto:Rom)

REMBANG, MataAirRadio.net – Wakil Ketua Paguyuban Kepala Desa se-Kabupaten Rembang Isa Anshori mendesak Pemerintah agar berpikir ulang tentang wacana penyaluran Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM). Isa menilai kebijakan tersebut akan memanjakan dan membuat masyarakat malas untuk merubah taraf ekonominya menjadi lebih baik.

Saat berbincang dengan reporter MataAir Radio Minggu (19/5) siang Isa juga menilai, BLSM merupakan kebijakan yang kurang efektif. Menurutnya, rencana penyaluran bantuan yang dulu dikenal sebagai Bantuan Langsung Tunai (BLT) ini merupakan cara yang tidak mendidik masyarakat.

Isa mengemukakan, jika memang Pemerintah ingin memberikan kompensasi atas kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM)akan lebih baik jika disalurkan melalui progam yang lain.

Misalnya saja, dialihkan untuk pemberdayaan kepada masyarakat yang digulirkan melalui sebuah progam. Menurutnya, cara tersebut jauh lebih efektif karena masyarakat akan memiliki semangat untuk bekerja mensejahterakan dirinya sendiri.

Namun demikian, Isa Anshori yang juga Kepala Desa Tlogomojo Kecamatan Rembang ini berencana menggelar koordinasi dengan kepala desa yang lain guna menyikapi wacana pemberian BLSM. Menurutnya, teknis penyaluran di lapangan perlu ada formula penyaluran bantuan yang tepat.

Ia menegaskan jangan sampai progam BLSM salah sasaran dan justru menimbulkan gejolak di masyarakat. Sebab berdasarkan pengalaman sebelumnya, penyaluran bantuan seperti raskin dan jamkesmas di Kabupaten Rembang banyak menemui persoalan.

Apalagi gelontoran BLSM ini dekat dengan gelaran pemilihan umum legislatif dan pemilihan Presiden, sehingga kompensasi itu juga sangat rawan disalahgunakan.

Sebelumnya, Ketua Paguyuban Kepala Desa Kecamatan Rembang (Pakkar) Kaseri menilai penyaluran BLSM rawan konflik. Apalagi, jika data calon penerima BLSM masih menggunakan data hasil PPLS 2011 dan belum verifikasi ulang, maka akan terjadi salah sasaran. (Afta Ahmad)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan